GKPI Bandung

Visi:GKPI sebagai Persekutuan Rohani dan Agen Perubahan/Pembaharuan.
Misi:GKPI sebagai tubuh Kristus, menjalankan sungguh-sungguh Tri Tugas Panggilan (Apostolat, Pastorat dan Diakonat).


Thursday, 2 May 2013

RAHASIA MUJIZAT


“Sesudah itu Ia mengambil ketujuh roti dan ikan-ikan itu, mengucap syukur, memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada murid-murid-Nya, lalu murid-murid-Nya memberikannya pula kepada orang banyak.
Dan mereka semuanya makan sampai kenyang. Kemudian orang mengumpulkan potongan-potongan roti yang sisa, tujuh bakul penuh. Yang ikut makan ialah empat ribu laki-laki, tidak termasuk perempuan dan anak-anak
.” Matius 15:36-38

Kisah ini terjadi setelah Yesus berkotbah kepada orang banyak dan menyembuhkan orang-orang yang sakit. Kemudian Yesus berkata kepada murid-muridNya bahwa mereka harus memberi makan kepada orang banyak. Tetapi yang ada pada mereka hanyalah beberapa roti dan ikan, yang secara manusia, makanan tersebut tidak akan cukup untuk memberi makan ribuan orang.
Yesus meminta murid-muridNya untuk membawa makanan tersebut dan kemudian mengucap syukur atas makanan itu. Setelah Ia memecah-mecah roti dan membagikan kepada orang banyak, secara ajaib semua orang dapat makan dengan kenyang, bahkan ada sisanya. Apa yang tadinya tidak mungkin menjadi mungkin.

Apakah rahasia di balik mujizat yang terjadi itu? Rahasianya ada pada pengucapan syukur.
Ada kuasa di dalam ucapan syukur.
  • Ucapan syukur merupakan cara di mana kita menyerahkan segalanya termasuk masalah-masalah yang kita alami kepada tangan Tuhan.
  • Ucapan syukur merupakan cara di mana kita berserah sepenuhnya.
  • Ucapan syukur merupakan cara di mana kita mengatakan kepada Tuhan bahwa kita mau dibentuk dan diproses dengan caraNya.
  • Ucapan syukur merupakan cara di mana kita membiarkan kasih Tuhan mengalir dalam hidup kita.
  • Ucapan syukur merupakan cara di mana kita membiarkan kuasa Tuhan bekerja mengubahkan hidup kita.
  • Ucapan syukur merupakan cara di mana kita menanggalkan segala keinginan kita dan menerima atas apa yang sedang terjadi, bahkan dalam keadaan yang paling buruk sekalipun.
Dan masih banyak lagi yang bisa kita peroleh dari sebuah ucapan syukur.
Bagaimana kita mengucap syukur?
  • Ucapkanlah terima kasih kepada Tuhan atas apa yang masih kita miliki.
  • Ucapkanlah terima kasih kepada Tuhan atas apa yang sedang terjadi.
  • Ucapkanlah terima kasih kepada Tuhan atas kasihNya yang masih tercurah bagi kita.
  • Ucapkanlah terima kasih kepada Tuhan atas kesempatan yang masih Tuhan berikan bagi kita.
  • Ucapkanlah terima kasih kepada Tuhan atas apa yang kita kerjakan.
Dan masih banyak lagi cara lain untuk mengucap syukur kepada Tuhan.Sama seperti kisah mujizat yang terjadi di atas, hal itu juga dapat terjadi dalam kehidupan kita. Seberat apapun masalah yang kita hadapi dalam pekerjaan/bisnis, separah apapun masalah rumah tangga yang kita alami, seburuk apapun keadaan keuangan yang dihadapi, hadapilah dengan sikap yang selalu mengucap syukur dalam segala keadaan. Kuasa Tuhan akan bekerja dalam kehidupan kita, sehingga mujizat akan terjadi. Pekerjaan kita akan dipulihkan, hubungan keluarga juga dipulihkan, bahkan keuangan yang serba minim juga akan dipulihkan.
Ucapan syukur akan mendatangkan kuasa Tuhan dalam kehidupan kita. Tuhan akan mencurahkan RohNya agar bekerja dalam hidup kita, memberi kita hikmat untuk melakukan apa yang benar di mata Tuhan dan yang sesuai dengan kehendakNya. Apa yang tidak pernah kita pikirkan, itu yang akan Tuhan berikan bagi kita.

Kuncinya ada pada ucapan syukur. Janganlah bersungut-sungut atas apa yang kita alami, karena sungut-sungut tidak akan menyelesaikan masalah. Tetapi sebaliknya, ucapan syukur akan mendatangkan berkat berkelimpahan atas kehidupan kita. Nama Yesus ditinggikan.
“Ucaplah syukur senantiasa atas segala sesuatu dalam nama Tuhan kita Yesus Kristus kepada Allah dan Bapa kita.” Efesus 5:20

Tuhan Yesus Memberkati.

Sunday, 28 April 2013

MEMULIAKAN ALLAH

Warta Jemaat No.17_28 April 2013                                                                                                                                         Untuk Kalangan Sendiri

Ketika mereka mendengar hal itu, mereka menjadi tenang lalu memuliakan Allah, katanya "Jadi kepada bangsa-bangsa lain juga Allah mengaruniakan pertobatan, yang memimpin kepada hidup" (kisah 11: 18)

Renungan firman Tuhan hari ini bagi kita antara lain : Rencana Tuhan pada dasarnya untuk menyelamatkan dunia misalnya dari panggilan Abraham (Kejadian 12 : 1 - 3, yakni menjadi berkat bagi bangsa-bangsa). Kini Gereja lebih banyak bekerja untuk organisasinya dan semakin sedikit yang memperhatikan penginjilan dan diakonia keluar dari Gerejanya. Gereja berdiri atau orang Kristen dipanggil (Ekklesia) menjadi satu persekutuan adalah dalam rangka menjangkau orang-orang diluar persekutuan itu. jadi pelayanan dan warga jemaatnya 
  1. Tidak menjadi konsumeris Injil, yang menyenangkan diri sediri
  2. Program utama Gereja adalah menjangkau mereka yang masih jauh 
  3. Perhatian Gereja harus dimulai dari penginjilan dan diakonia, tanda/syarat bagi semua orang percaya
Ada banyak orang yang menyampaikan Firman dalam berbagai kesempatan tanpa mendengar suara Tuhan dalam hatinya, dan ada banyak orang Kristen berdebat untuk saling  mengalahkan  dalam persekutuan Gereja. Kita butuh tuntunan Roh Kudus untuk menindaklanjuti kehendak Tuhan. Kalau Tuhan menunggu kita untuk digunakan demi keselamatan orang lain, karena untuk itu kita dipanggil. Syalom.




                                                 Disadur dari Suara GKPI edisi April 2013
Oleh : Pdt. Wilson G. P. L. Tobing S. Th.


Sunday, 10 March 2013

SUKACITA ATAS KEMBALINYA ORANG BERDOSA

Warta Jemaat  No. 10-10 Maret 2013                                                                                                                                       Untuk Kalangan Sendiri

"Tetapi tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya. Dan apabila keinginan itu telah dibuahi, ia melahirkan dosa; dan apabila dosa itu sudah matang, ia melahirkan maut."
(Yakobus 1 : 14 - 15)


Renungan dari nats ini bagi kita adalah kejatuhan seseorang kedalam dosa berawal dari munculnya keinginan. Keinginan itu bisa muncul oleh karena pernah melihat, membaca atau mendengarkan cerita tentang perbuatan dosa. Keinginan itu bisa berkembang di dalam pikiran dan akhirnya melahirkan dorongan yang kuat untuk melakukannya. Bila dorongan itu dilakukan jadilah dosa.

Seperti anak bungsu dalam nats ini, dari seorang anak petani yang lugu, terjerumus ke dalam hidup foya-foya dan penuh kenajisan, karena ia melakukan apa yang ada di pikirannya. Cepat atau lambat, perbuatan dosa akan membuahkan kehancuran dan pada akhirnya kematian kekal (Roma 6:36). Ketika harta anak bungsu itu habis, kesukaran tiba, maka ia jatuh ke jurang kesengsaraan, yaitu menjadi penjaga babi, suatu pekerjaan yang paling hina pada saat itu. Tetapi pada akhirnya si anak bungsu dapat kembali kepada bapanya. Apakah rahasianya?
  • Menyadari keadaannya. Bila seseorang menyadari keberadaannya yang berdosa di hadapan Allah, ini adalah suatu langkah awal yang baik.
  • Bangkit dan Pergi. Bertindak dan segera datang kepada bapanya.
  • Dengan rendah hati mengakui kesalahannya, yaitu terhadap sorga (Allah) dan kepada  bapanya (Manusia). Ia mmengakuinya dengan jujur.
  • Berserah kepada pimpinan bapanya. Pernyataan anak bungsu: "jadikanlah aku sebagai salah satu upahan bapa", artinya mau disuruh dan ada penyerahan total kepada bapanya.
Bagaimana reaksi si anak sulung, saat ia melihat apa yang dilakukan bapanya pada adik bungsunya? Ia marah dan menganggap bapanya pilih kasih (ayat 28 - 30). Barangkali kita sering bersikap seperti anak sulung tersebut. Yang perlu kita ketahui adalah anak sulung  itupun bertobat, perlu merendahkan hati dan mampu bersyukur dalam kehidupannya, sehingga mampu bermurah hati kepada adiknya (perwakilan untuk orang-orang yang rindu bertobat) seperti yang telah diperlihatkan oleh bapanya.

Sumber : Suara GKPI edisi Februari 2013

Friday, 8 March 2013

MAMPU MENANGGUNG PENCOBAAN

Warta Jemaat No. 09-3 maret 2013                                                                                                                                          Untuk Kalangan Sendiri


"Percobaan-percobaan yang kamu alami ialah percobaan-percobaan yang biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya".
(1 Korintus 10 : 13)

Rasul Paulus, sebagaimana tampak dalam teks ini, memberikan bimbingan kepada orang-orang percaya di Korintus, dengan mengingatkan mereka (ayat 1 - 4). Jika kita membaca Bilangan 20 : 2 - 11, yang berbicara tentang bagaimana Tuhan memampukan Musa untuk mengeluarkan air dari bukit batu. Disini dikatakan tentang "Batu Rohani" yang mengikuti mereka (ayat 4). Tuhan berfirman, bahwa Dia akan memberi kita kekuatan dan tidak membiarkan pencobaan yang kita tanggung itu melebihi kekuatan kita. Meskipun demikian, semua itu tergantung dari diri kita sendiri. Apakah kita mau berlindung dibawah kepaknya agar terhindar dari bahaya?. Hati-hati, orang percaya di Korintus pun dapat terjebak kepada dosa-dosa seperti yang Israel lakukan (ayat 7 - 10)

Pada umumnya jika seseorang berhasil dalam hidupnya, ekonomi, usaha, pekerjaan, dan sebagainya akan semakin tinggi hati dan gila akan sanjungan. Keberhasilan ini akan menghasilkan kejatuhan yang disebabkan kealpaan kita. "Onpe, ganup na jongjong dirohana, dimatahonma, unang tinggang (ayat 12)." oleh karena itu :
  1. Marilah kita saling menasehati dan menguatkan bahwa setiap masalah/pergumulan hidup selalu ada jalan keluarnya. Harus ada semangat dan percaya akan Tuhan.
  2. Belajarlah dari contoh-contoh dan pengalaman-pengalaman yang positif kita ikuti, yang negatif kita hindari.
  3. "Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu! demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus". (gal. 6 : 2)
  4.   Berdoalah agar hati kita senantiasa berpaut pada Tuhan. 

Sumber : Suara GKPI edisi Feb 2013
Disadur oleh : Pdt. Jhon P.E. Simaorangkir



Sunday, 17 February 2013

SETIA DALAM PENCOBAAN

Warta Jemaat No. 07_17 Februari 2013                                                                                                                                    Untuk Kalangan Sendiri


Hal Yesus dicobai di padang gurun adalah hal yang sudah dikenal secara luas dikalangan Gereja. Percobaan itu terjadi setelah Yesus berpuasa 40 hari/malam. "Padang gurun dan angka 40 adalah kisah yang dikenal dalam sejarah Israel dan ke-Yahudian, yaitu peristiwa keluaran dan perjalanan di padang gurun 40 tahun dibawah kepemimpinan Musa. Musa adalah hamba Allah yang menerima Thora; Firman Allah yang berisi panggilan kepada manusia, bahwa hanya Allah yang disembah dan dituruti, Allah yang adil dan menghendaki agar manusia hidup dalam keadilan (Dasa Titah I - IV, V - X). Firman Tuhan (Thora) itu bukan hanya perkataan, tetapi juga perbuatan Tuhan sebagaimana Ia menyatakannya ddalam peristiwa keluaran dan sejarah perjalanan umat Israel di padang gurun.

Mateus memakai kisah "eksodus/keluaran" itu sebagai analogi kepada Yesus. Yesus adalah Mesias yang menggenapi Torat Musa dan nabi-nabi (Mateus 17:4) dalam dua aspek.
  1. Yesus adalah Musa baru yang menyatakan Firman dan kehendak Allah . Dia adalah Guru dan Nabi yang benar , yang datang dari Allah.
  2. Yesus adalah pelaku Taurat yang benar. Apa isi dan dan panggilan utama taurat itu?. Isi dan panggilan yang utama adalah penyembahan dan persembahan kepada Allah (Titah I - IV) dan keadilan/kah terhadap sesama (Titah V - X).
Dalam konteks itulah disajikan dalam Injil Mateus yang menggambarkan polemikberkepanjangan antara ahli-ahli taurat dengan Tuhan Yesus. Para ahli Taurat memakai taurat sebagai hukum-hukum kesucian agama secara formal, material dan lahiriah, malah mereka menuduh Tuhan Yesus sebagai seorang yang melanggar atau menajiskan, atau bahkan mau meniadakan hukum taurat. Tetapi Yesus berkata : Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu kata atau satu titik pun tidak akan ditiadakan dari hukum taurat , sebelum semuanya terjadi (Mateus 5:18). Jika hidup keagamaanmu tidak lebih  benar daripada hidup keagamaan ahli-ahli taurat dan orang-orang farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk kerajaan sorga (5:20). Yesus adalah penggenapan dan pemberlakuan taurat secara formal, tetapi juga secara esensi dan substansi dari taurat itu yaitu menyembah dan mengasihi Allah yang adil dan berlaku adil mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri (mateus 22: 37 - 39). Hidup keagamaan yang diperintahkan Taurat disarikan dalam Mateus 6 : 1 - 21. Nats ini berkisah tentang salh satu kewajiban agama, yaitu berpuasa. Yesus tidak menghilangkan puasa sebagai salah satu unsur beragama dalam membangun iman kepada Tuhan. Puasa bukan sekedar kewajiban agama tetapi memperlihatkan hakekat  dari hidup dan aktivitas agama yang benar. Puasa Yesus disini dilakukan dalam menuai pelayan-Nya. Itu berarti puasa adalah dalam rangka memberikan dirinya untuk melayani/mengasihi orang lain (band: Puasa untuk memperleh sesuatu bagi diri_Nya sendiri). Tujuan melaksanakan kewajiban yang salah makin diperlihatkan dalam kisah pencobaan iblis kepada Yesus. Hal percobaan adalah perkara yang dikenal semua agama dengan berbagai penyeban dan akibatnya. Kisah pencobaan dalam agama-agama memperlihatkan tentang hakekat tujuan manusia yang baik dan yang jahat, yang benar dan sesat. dalam nats ini disebut "iblis"dalam arti yang luas. Iblis adalah personifikasi dari penggoda atau godaan; baik yang datang dari internal maupun eksternal dari diri seseorang yang berpengaruh atau menggerakkan seseorang kepada tujuan hidup dan tujuan pekerjaannya, yang menyimpang dari seharusnya. Petrus pernah ditegur sebagai iblis ketika pemahaman, pendapatnya tentang Yesus keliru, yang harus mati dan disalibkan (Mateus 16: 23). dalam Yakobus 1 : 12 - 14, percobaan adalah dunia (dengan segala kemewahannya) yang memikat yang menjadi percobaan bagi keinginan manusia untuk melakukan kejahatan. Dalam nats ini godaan itu diungkap dalam bujukan iblis (sebagai yang jahat dan sesat kepada Yesus, sebagai yang baik dan benar). Semua yang diutarakan iblis adalah menandakan kehidupan beragama/beriman yang bertujuan kepada kebutuhan lahiriah dan duniawi/sekuler (kebutuhan fisik dan kemegahan dunia). Dalam Mateus 6 : 25 - 34 disebut itulah yang dicari oleh bangsa-bangsa dan penyembah berhala. Tapi Kristus dan kepada pengikutnya diserukan Mateus 6: 33; Roma 14: 17 - 18, tentang apa dan bagaimana kerajaan Allah itu.

Pesan dari Nats:
  1. Yesus adalah Mesias, Musa baru, yang memanggil dan memimpin umatnya menjadi umat kerajaan Allah. Umat percaya kepada Yesus Kristus bukan untuk mencari makan dan kebutuhan diri sendiri, melainkan berbagi.
  2. Perlu pertobatan dari pemahaman yang salah tentang pemahaman dan praktek menggereja yang salah. Gereja sebagai persekutuan orang percaya dalam Yesus Kristus, bukan tempat/persekutuan yang mengejar hal-hal lahiriah yang ekonomis bagi diri sendiri. Gereka sebagai persekutuan haruslah memperlihatkan tanda-tanda kerajaan Allah, yaitu hidup dalam persekutuan yang berbagi, melayani, mengasihi orang lain yang bersumber dari Kasih Kristus yang telah mempersembahkan tubuh-Nya bagi manusia berdosa dan hina. Berita ini semakin penting bagi gereja, karena kecenderungan dunia sekarang adalah dunia yang mengejar dan mengagungkan hal-hal sekuler dan dunia.
Sumber bacaan Mateus 4 : 1 - 11

Disadur dari Suara GKPI.

Tuesday, 12 February 2013

MENGIKUT TUHAN YESUS

Renungan Singkat, Selasa. 12 Februari 2013                                                                                                         Untuk Kalangan Sendiri



Siapa bilang mengikut Tuhan Yesus itu gampang? Kalau sekedar ikut-ikutan, ya gampang. Tetapi kalau mau serius,sepenuh komitmen dan dengan kesadaran akan “harga yang harus dibayar”, jelas tidak gampang. ‘SETIAP ORANG YANG MAU MENGIKUT AKU, IA HARUS MENYANGKAL DIRINYA, MEMIKUL SALIBNYA SETIAP HARI DAN MENGIKUT AKU” (Lukas 9:23).
Apa artinya menyangkal diri dan memikul salib,dan kenapa pula itu tidak mudah?
  • MENYANGKAL DIRI = MENAHAN DIRI
    • Mengesampingkan ego,keinginan pribadi,kepuasan pribadi,kenikmatan pribadi demi sesuatu yang lebih bermakna.
    • Tidak mudah,sebab manusia memiliki kecenderungan mencari enak ,melakukan segala hal yang menyenangkan dirinya. Hal sederhana saja kadang kita tidak dapat menahan diri, ditengah kebaktian/ibadah  untuk tidak berbincang-bincang sendiri, berfacebook ria,ber-sms dsb. Ingat teguranNYA pada para murid dlm Markus 14 : 37 b “Tidakkah engkau sanggup berjaga-jaga satu jam ?” .  Banyak hal-hal yang kelihatannya sederhana tapi jika tidak senantiasa menyangkal diri, maka akan menimbulkan hal-hal besar yang merugikan diri kita yaitu kita kehilangan prioritas yang lebih berharga dalam hidup ini.
  • MEMIKUL SALIB = BERSEDIA MELAKUKAN/MENANGGUNG SESUATU DEMI IMAN KITA KEPADA YESUS KRISTUS
    • Dan semua itu dimulai dari perkara-perkara kecil dalam tindakan sehari-hari. Tidak mudah, sebab manusia memiliki kecenderungan tidak mau repot,tidak mau berkorban,tidak mau kecewa dsb. Sering banyak yang memilih bersembunyi dibalik salib,padahal dalam Alkitab Tuhan Yesus menyuruh memikul salib. Tapi ingat salib Kristus yang harus kita pikul bukan salib yang kita buat sendiri sebagai akibat dari kedagingan kita. Hal sederhana saja kadang kita meletakkan salib-NYA disaat kita disakiti oleh perkataan sesama, maunya menyimpan dalam nafsu dendam. Ingat  dalam I Korintus 13:5 “……dan tidak menyimpan kesalahan orang lain”. Mengikut Tuhan Yesus ada saatnya kita mersa bimbang, terutama ketika harapan tidak sesuai dengan kenyataan.
Begitulah, menyangkal diri dan memikul salibNYA memang bukan perkara gampang dan sederhana. Sebab itu kita harus menguasai atau menundukkan diri sendiri. Itulah yang harus kita lakukan kalau mau mengikut Kristus, kekuatanNYA yang memampukan kita untuk menyangkal diri dan pikul salibNYA sampai akhir hidup kita.


Sunday, 10 February 2013

KEMULIAAN TUHAN MEMERDEKAKAN

Warta Jemaat No. 06-10 Februari 2013                                                                                                                                     Untuk Kalangan Sendiri

Semua manusia membutuhkan kemerdekaan/kebebasan dari hukum dosa yaitu maut. Bagaimanakah hal itu dapat terjadi dan bagaimana penerapannya dalam kehidupan sehari-hari?.

Ketika Roh melaksanakan kuasanya yang berdaulat, disitulah ada kemerdekaan (lihat 2 Kor 3:6-9 dan Gal.9:4). Roh inilah yang dalam injil, menghasilakan kemerdekaan dari dosa dan maut (Roma 6 : 18, 22 - 23). Kemerdekaan yang cemerlang bagi anak-anak Allah dari ikatan yang menuju kematian. Kepemilikan Roh di masa kini menjadi jaminan  kebebasan dari kefanaan (2 Kor. 5 : 5). Secara khusus Paulus melihat kemerdekaan yang diberikan Roh itu kepadanya sebagai seorang Rasul adalah keberanian menyatakan kebenaran secara terus terang (ayat 12).

Kemuliaan yang dapat kita lihat dalam Injil (2 Kor. 4 : 4 + 6) Kristus adalah bayangan atau cermin dari kemuliaan Allah. Mereka yang melihat kemuliaan sang anak, akan menyaksikan kemuliaan yang lebih besar daripada yang disingkap dari peristiwa Keluaran (Yoh. 1 : 14) Mereka diubah menjadi serupa dengan gambarNya. Sementara, Roh memberikan jaminan kepada kita bahwa kemuliaan itu akan kita miliki kelak ( 2 Kor. 1 : 25, 5:5).

Renungan
  1. Menjadi orang Kristen kadangkala tiddak terlihat keistimewaannya/kemerdekaannya sehingga tidak berbeda dengan dunia, khusunya ketika mengalami penderitaan. Kegairahan, semangat hidup hilang padahal sebagai pengikut Kristus yang telah dimemerdekakan oleh kemuliaan Allah, walaupun menderita tetapi tetap semangat dan kuat.
  2. Kadang kala perasaan negatif menutupi kemuliaan Tuhan yang telah memerdekakan. Dengan tetap memelihara perjumpaan dengan Allah, orang kristen pasti mengalami kemerdekaan yang diperoleh dari Tuhan. Untuk mengalami perjumpaan dengan Tuhan harus memiliki sikap tunduk dan takut kepada Allah, karena sikap ini akan menyingkap selubung mata hati kita untuk merasakan kemerdekaan yang diperoleh dari kemuliaan Allah (2 Kor. 3 : 13 - 18).

Sumber bacaan : Suara GKPI