GKPI Bandung

Visi:GKPI sebagai Persekutuan Rohani dan Agen Perubahan/Pembaharuan.
Misi:GKPI sebagai tubuh Kristus, menjalankan sungguh-sungguh Tri Tugas Panggilan (Apostolat, Pastorat dan Diakonat).


Sunday, 7 July 2013

HIDUP DALAM HIKMAT DAN KASIH

Warta Jemaat No. 27 - 7 Juli 2013                                                                                                                                           Untuk Kalangan Sendiri


Hai tuan-tuan, berlakulah adil dan jujur terhadap hambamu; ingatlah, kamu juga mempunyai tuan di sorga.
Bertekunlah dalam doa dan dalam pada itu berjaga-jagalah sambil mengucap syukur. Berdoa jugalah untuk kami, supaya Allah membuka pintu untuk pemberitaan kami, sehingga kami dapat berbicara tentang rahasia Kristus, yang karenanya aku dipenjarakan.Dengan demikian aku dapat menyatakannya, sebagaimana seharusnya.Hiduplah dengan penuh hikmat terhadap orang-orang luar, pergunakanlah waktu yang ada. Hendaklah kata-katamu senantiasa penuh kasih, jangan hambar, sehingga kamu tahu, bagaimana kamu harus memberi jawab kepada setiap orang. 
(Kolose 4 : 1 - 4)

Kolose adalah sebuah kota dikawasan Asia kecil; sebelah timur kota Efesus. Meskipun jemaat Kolose bukan didirikan oleh Paulus, tetapi dia mengutus pekerja-pekerja dari Efesus. Di jemaat Kolose pada waktu itu, dijumpai guru palsu yang menekankan bahwa untuk mengenal Tuhan dan diselamatkan dengan sempurna, orang harus menyembah roh-roh, dan hal lain yang bertentangan dengan ajaran Kristus; kesemuanya diluruskan oleh Rasul Paulus.

Inti dari kitab ini ialah bahwa Yesus Kristus berkuasa memberi keselamatan yang sempurna dimana ajaran lainnya malah menjauhkan orang dari Kristus. Paulus juga menekankan bahwa melalui Kristuslah, Tuhan menciptakan dunia ini, dan melalui Kristus pula Tuhan menyelamatkannya.

Paulus menekankan, agar para majikan berlaku jujur dan adil terhadap hamba; sebagaimana Tuhan memperlakukan kita. Jangan memperlakukan hamba-hamba semaunya, dia juga turut serta kita doakan dengan kasih. Jika ada orang yang berbicara, baiklah ia berbicara sebagai orang yang menyampaikan Firman Allah (1 Petrus 4 : 11). Ingat, bahwa hikmat Salomo melebihi hikmat segala bani Timur dan melebihi hikmat untuk jiwamu: jika engkau mendapatkannya, maka ada masa depan, dan harapanmu tidak akan hilang;, yang dalam bahasa Jawa dikatakan: Semono uga kawicaksanan tumraping nyawa. Mulane nduwenana kawicaksanan, nesthi mbesuk uripmu bakal kepenak (Amsal 24 : 14)

Sumber : Suara GKPI
Oleh : Pdt. H. U. M. Gultom

Monday, 1 July 2013

MENGIKUT YESUS TANPA DALIH

Warta Jemaat No. 26 - 30Juni 2013                                                                                                                                          Untuk Kalangan sendiri


Serigala mempunyai liang, burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepalaNya (Mateus 8 : 20). Ungkapan Yesus itu untuk menjawab ahli taurat yang ingin menjadi muridNya. Maknanya ada dua, yaitu bahwa ahli taurat diibaratkannya seperti serigala (ngintip & menerkam) dan burung (memakan tanaman); memiliki wilayah kekuasaan, berbahaya dan tak peduli diluar sejenisnya . Makna kedua, untuk menunjukkan bahwa Yesuslah yang memilih muridNya -bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu (Yohanes 15:16).

Ketika Elia menyerahkan kenabiannya kepada Elisa seraya memberikan jubahnya, Elisa mengatakan ;"biarkanlah aku mencium ayah dan ibuku, lalu aku mengikuti engkau (1 Raja 19 : 20). Lainnya seorang muridNya mengatakan, "Tuhan, izinkanlah aku pergi dahulu menguburkan ayahku". Tetapi Yesus berkata kepadanya ;"Ikutlah Aku dan biarlah orang-orang mati menguburkan orang-orang mati mereka" (Mat. 8 : 22).

Perikop ini mengajak kita, agar warga GKPI Bandung supaya mengikuti Yesus, tidak boleh mencari dalih (mar-sidalian); tak peduli alasan orangtua, keluarga, pangkat, jabatan, harta, arisan, dagang ataupun kesibukan lainnya. Katakan "Ya" dan bangkit segera!, jangan keraskan hatimu!, Ulah basangkal cara karuhun maraneh, ngalawan ka Allah, waktu maranehna ngadoja ka Mantenna di gurun keusik (Ibr 3 : 8).

Sumber : 
Suara GKPI & Impola Jamita HKBP

Monday, 6 May 2013

BERTEKUN DI DALAM DOA

Warta Jemaat No. 18_5 Mei 2013                                                                                                                                            Untuk Kalangan Sendiri


Hendaklah kasih itu jangan pura-pura! Jauhilah yang jahat dan lakukanlah yang baik.
Hendaklah kamu saling mengasihi sebagai saudara dan saling mendahului dalam memberi hormat.
 Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Tuhan.
  Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa!
Bacaan Injil Roma 12 :  - 12


Dalam pasal 12, Ini berbicara tentang persembahan yang benar, yakni mempersembahkan tubuh sebagai persembahan yang hidup dan kudus. Dimana kita sebagai bukti ibadah yang benar di hadapan Allah. Khusus ayat 9 - 12 merupakan realisasi sebagai ibadah yang benar.

Ayat 9: bagi Paulus, Kasih adalah segala-galanya (1 Korintus 13:13), maksudnya sekalipun orang lain memfitnah , kasar, selalu menang sendiri, emosiaonal, mengatakan bodoh, kita harus tetap mengasihi. Sulit rasanya untuk diterima, tapi Roh Kudus mengingatkan kita bahwa kita adalah hamba, tak punya alasan merasa diri benar. Hamba harus menerima apa saja dengan kerendahan hati (memposisikan diri kitadengan tepat dihadapan Allah).
Ayat 10:Kasih itu harus kasih yang rendah hati, tidak sombong. Tuhan Yesus memberikan teladan yang jelas. Ia menghargai ketulusan, walupun Tuhan Yesus dan Mudri-murid-Nya dikecam (Lukas 5:30).
Ayat 11:Kita berfikir bahwa kehilangan kegairahan akan hal-hal rohani adalah hal yang lumrah. Wah ini alasan yang paling disenangi oleh iblis. Bagaimana dengan kita? Apakah kita tidak lagi bersemangat dalam memuji Tuhan, membaca Alkitab, melayani dan datang beribadah?. Bila ya, janganlah kita meremehkan gejala ini.
Ayat 12:Paulus memperingatkan agar menjaga semangat rohani, karena sedang melayani Tuhan bukan manusia. Walaupun menyakitkan, kecewa, tetaplah andalkan pertolongan Tuhan bukan manusia, melalui doa (Mateus 7:7). Tuhan tidak mengajarkan mintalah, carilah, dan ketoklah hanya 1 x saja, tetapi seumur hidup, jadi jangan jemu-jemu.

Sumber : Suara GKPI edisi April 2013

Thursday, 2 May 2013

RAHASIA MUJIZAT


“Sesudah itu Ia mengambil ketujuh roti dan ikan-ikan itu, mengucap syukur, memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada murid-murid-Nya, lalu murid-murid-Nya memberikannya pula kepada orang banyak.
Dan mereka semuanya makan sampai kenyang. Kemudian orang mengumpulkan potongan-potongan roti yang sisa, tujuh bakul penuh. Yang ikut makan ialah empat ribu laki-laki, tidak termasuk perempuan dan anak-anak
.” Matius 15:36-38

Kisah ini terjadi setelah Yesus berkotbah kepada orang banyak dan menyembuhkan orang-orang yang sakit. Kemudian Yesus berkata kepada murid-muridNya bahwa mereka harus memberi makan kepada orang banyak. Tetapi yang ada pada mereka hanyalah beberapa roti dan ikan, yang secara manusia, makanan tersebut tidak akan cukup untuk memberi makan ribuan orang.
Yesus meminta murid-muridNya untuk membawa makanan tersebut dan kemudian mengucap syukur atas makanan itu. Setelah Ia memecah-mecah roti dan membagikan kepada orang banyak, secara ajaib semua orang dapat makan dengan kenyang, bahkan ada sisanya. Apa yang tadinya tidak mungkin menjadi mungkin.

Apakah rahasia di balik mujizat yang terjadi itu? Rahasianya ada pada pengucapan syukur.
Ada kuasa di dalam ucapan syukur.
  • Ucapan syukur merupakan cara di mana kita menyerahkan segalanya termasuk masalah-masalah yang kita alami kepada tangan Tuhan.
  • Ucapan syukur merupakan cara di mana kita berserah sepenuhnya.
  • Ucapan syukur merupakan cara di mana kita mengatakan kepada Tuhan bahwa kita mau dibentuk dan diproses dengan caraNya.
  • Ucapan syukur merupakan cara di mana kita membiarkan kasih Tuhan mengalir dalam hidup kita.
  • Ucapan syukur merupakan cara di mana kita membiarkan kuasa Tuhan bekerja mengubahkan hidup kita.
  • Ucapan syukur merupakan cara di mana kita menanggalkan segala keinginan kita dan menerima atas apa yang sedang terjadi, bahkan dalam keadaan yang paling buruk sekalipun.
Dan masih banyak lagi yang bisa kita peroleh dari sebuah ucapan syukur.
Bagaimana kita mengucap syukur?
  • Ucapkanlah terima kasih kepada Tuhan atas apa yang masih kita miliki.
  • Ucapkanlah terima kasih kepada Tuhan atas apa yang sedang terjadi.
  • Ucapkanlah terima kasih kepada Tuhan atas kasihNya yang masih tercurah bagi kita.
  • Ucapkanlah terima kasih kepada Tuhan atas kesempatan yang masih Tuhan berikan bagi kita.
  • Ucapkanlah terima kasih kepada Tuhan atas apa yang kita kerjakan.
Dan masih banyak lagi cara lain untuk mengucap syukur kepada Tuhan.Sama seperti kisah mujizat yang terjadi di atas, hal itu juga dapat terjadi dalam kehidupan kita. Seberat apapun masalah yang kita hadapi dalam pekerjaan/bisnis, separah apapun masalah rumah tangga yang kita alami, seburuk apapun keadaan keuangan yang dihadapi, hadapilah dengan sikap yang selalu mengucap syukur dalam segala keadaan. Kuasa Tuhan akan bekerja dalam kehidupan kita, sehingga mujizat akan terjadi. Pekerjaan kita akan dipulihkan, hubungan keluarga juga dipulihkan, bahkan keuangan yang serba minim juga akan dipulihkan.
Ucapan syukur akan mendatangkan kuasa Tuhan dalam kehidupan kita. Tuhan akan mencurahkan RohNya agar bekerja dalam hidup kita, memberi kita hikmat untuk melakukan apa yang benar di mata Tuhan dan yang sesuai dengan kehendakNya. Apa yang tidak pernah kita pikirkan, itu yang akan Tuhan berikan bagi kita.

Kuncinya ada pada ucapan syukur. Janganlah bersungut-sungut atas apa yang kita alami, karena sungut-sungut tidak akan menyelesaikan masalah. Tetapi sebaliknya, ucapan syukur akan mendatangkan berkat berkelimpahan atas kehidupan kita. Nama Yesus ditinggikan.
“Ucaplah syukur senantiasa atas segala sesuatu dalam nama Tuhan kita Yesus Kristus kepada Allah dan Bapa kita.” Efesus 5:20

Tuhan Yesus Memberkati.

Sunday, 28 April 2013

MEMULIAKAN ALLAH

Warta Jemaat No.17_28 April 2013                                                                                                                                         Untuk Kalangan Sendiri

Ketika mereka mendengar hal itu, mereka menjadi tenang lalu memuliakan Allah, katanya "Jadi kepada bangsa-bangsa lain juga Allah mengaruniakan pertobatan, yang memimpin kepada hidup" (kisah 11: 18)

Renungan firman Tuhan hari ini bagi kita antara lain : Rencana Tuhan pada dasarnya untuk menyelamatkan dunia misalnya dari panggilan Abraham (Kejadian 12 : 1 - 3, yakni menjadi berkat bagi bangsa-bangsa). Kini Gereja lebih banyak bekerja untuk organisasinya dan semakin sedikit yang memperhatikan penginjilan dan diakonia keluar dari Gerejanya. Gereja berdiri atau orang Kristen dipanggil (Ekklesia) menjadi satu persekutuan adalah dalam rangka menjangkau orang-orang diluar persekutuan itu. jadi pelayanan dan warga jemaatnya 
  1. Tidak menjadi konsumeris Injil, yang menyenangkan diri sediri
  2. Program utama Gereja adalah menjangkau mereka yang masih jauh 
  3. Perhatian Gereja harus dimulai dari penginjilan dan diakonia, tanda/syarat bagi semua orang percaya
Ada banyak orang yang menyampaikan Firman dalam berbagai kesempatan tanpa mendengar suara Tuhan dalam hatinya, dan ada banyak orang Kristen berdebat untuk saling  mengalahkan  dalam persekutuan Gereja. Kita butuh tuntunan Roh Kudus untuk menindaklanjuti kehendak Tuhan. Kalau Tuhan menunggu kita untuk digunakan demi keselamatan orang lain, karena untuk itu kita dipanggil. Syalom.




                                                 Disadur dari Suara GKPI edisi April 2013
Oleh : Pdt. Wilson G. P. L. Tobing S. Th.


Sunday, 10 March 2013

SUKACITA ATAS KEMBALINYA ORANG BERDOSA

Warta Jemaat  No. 10-10 Maret 2013                                                                                                                                       Untuk Kalangan Sendiri

"Tetapi tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya. Dan apabila keinginan itu telah dibuahi, ia melahirkan dosa; dan apabila dosa itu sudah matang, ia melahirkan maut."
(Yakobus 1 : 14 - 15)


Renungan dari nats ini bagi kita adalah kejatuhan seseorang kedalam dosa berawal dari munculnya keinginan. Keinginan itu bisa muncul oleh karena pernah melihat, membaca atau mendengarkan cerita tentang perbuatan dosa. Keinginan itu bisa berkembang di dalam pikiran dan akhirnya melahirkan dorongan yang kuat untuk melakukannya. Bila dorongan itu dilakukan jadilah dosa.

Seperti anak bungsu dalam nats ini, dari seorang anak petani yang lugu, terjerumus ke dalam hidup foya-foya dan penuh kenajisan, karena ia melakukan apa yang ada di pikirannya. Cepat atau lambat, perbuatan dosa akan membuahkan kehancuran dan pada akhirnya kematian kekal (Roma 6:36). Ketika harta anak bungsu itu habis, kesukaran tiba, maka ia jatuh ke jurang kesengsaraan, yaitu menjadi penjaga babi, suatu pekerjaan yang paling hina pada saat itu. Tetapi pada akhirnya si anak bungsu dapat kembali kepada bapanya. Apakah rahasianya?
  • Menyadari keadaannya. Bila seseorang menyadari keberadaannya yang berdosa di hadapan Allah, ini adalah suatu langkah awal yang baik.
  • Bangkit dan Pergi. Bertindak dan segera datang kepada bapanya.
  • Dengan rendah hati mengakui kesalahannya, yaitu terhadap sorga (Allah) dan kepada  bapanya (Manusia). Ia mmengakuinya dengan jujur.
  • Berserah kepada pimpinan bapanya. Pernyataan anak bungsu: "jadikanlah aku sebagai salah satu upahan bapa", artinya mau disuruh dan ada penyerahan total kepada bapanya.
Bagaimana reaksi si anak sulung, saat ia melihat apa yang dilakukan bapanya pada adik bungsunya? Ia marah dan menganggap bapanya pilih kasih (ayat 28 - 30). Barangkali kita sering bersikap seperti anak sulung tersebut. Yang perlu kita ketahui adalah anak sulung  itupun bertobat, perlu merendahkan hati dan mampu bersyukur dalam kehidupannya, sehingga mampu bermurah hati kepada adiknya (perwakilan untuk orang-orang yang rindu bertobat) seperti yang telah diperlihatkan oleh bapanya.

Sumber : Suara GKPI edisi Februari 2013

Friday, 8 March 2013

MAMPU MENANGGUNG PENCOBAAN

Warta Jemaat No. 09-3 maret 2013                                                                                                                                          Untuk Kalangan Sendiri


"Percobaan-percobaan yang kamu alami ialah percobaan-percobaan yang biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya".
(1 Korintus 10 : 13)

Rasul Paulus, sebagaimana tampak dalam teks ini, memberikan bimbingan kepada orang-orang percaya di Korintus, dengan mengingatkan mereka (ayat 1 - 4). Jika kita membaca Bilangan 20 : 2 - 11, yang berbicara tentang bagaimana Tuhan memampukan Musa untuk mengeluarkan air dari bukit batu. Disini dikatakan tentang "Batu Rohani" yang mengikuti mereka (ayat 4). Tuhan berfirman, bahwa Dia akan memberi kita kekuatan dan tidak membiarkan pencobaan yang kita tanggung itu melebihi kekuatan kita. Meskipun demikian, semua itu tergantung dari diri kita sendiri. Apakah kita mau berlindung dibawah kepaknya agar terhindar dari bahaya?. Hati-hati, orang percaya di Korintus pun dapat terjebak kepada dosa-dosa seperti yang Israel lakukan (ayat 7 - 10)

Pada umumnya jika seseorang berhasil dalam hidupnya, ekonomi, usaha, pekerjaan, dan sebagainya akan semakin tinggi hati dan gila akan sanjungan. Keberhasilan ini akan menghasilkan kejatuhan yang disebabkan kealpaan kita. "Onpe, ganup na jongjong dirohana, dimatahonma, unang tinggang (ayat 12)." oleh karena itu :
  1. Marilah kita saling menasehati dan menguatkan bahwa setiap masalah/pergumulan hidup selalu ada jalan keluarnya. Harus ada semangat dan percaya akan Tuhan.
  2. Belajarlah dari contoh-contoh dan pengalaman-pengalaman yang positif kita ikuti, yang negatif kita hindari.
  3. "Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu! demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus". (gal. 6 : 2)
  4.   Berdoalah agar hati kita senantiasa berpaut pada Tuhan. 

Sumber : Suara GKPI edisi Feb 2013
Disadur oleh : Pdt. Jhon P.E. Simaorangkir