GKPI Bandung

Visi:GKPI sebagai Persekutuan Rohani dan Agen Perubahan/Pembaharuan.
Misi:GKPI sebagai tubuh Kristus, menjalankan sungguh-sungguh Tri Tugas Panggilan (Apostolat, Pastorat dan Diakonat).


Tuesday, 19 June 2018

Khotbah Keb. R. Tangga 3 – 4 April 2018 Yunus 2:1-9



K
adangkala manusia teringat Kepada Tuhan disaat dalam kesesakan. Sepenggal kalimat yang diungkapkan oleh Kahlil Gibran “Kamu berdoa disaat sulit dan saat engkau butuh…”. Dalam kalimat yang lain mengartikan doa dipanjatkan disaat kita mengalami pencobaan, disaat kita butuh, disaat kita kesusahan.Ketika berada dalam lembah kekelaman, ujian atau masalah yang berat, seringkali kita bertanya kepada Tuhan,  "Mengapa Tuhan hal ini bisa terjadi?  Tuhan, mengapa Engkau meninggalkan aku?"  Ketahuilah bahwa adakalanya Tuhan mengijinkan kita masuk ke suatu keadaan yang sepertinya tidak ada harapan, dengan tujuan menguji kesetiaan dan iman kita.  Karena itu kita tidak boleh menyerah dan putus asa.Ketahuilah bahwa kehidupan yang sedang kita jalani bukanlah sebuah kehidupan yang bebas dari hambatan. Bukan pula kehidupan yang tidak ada tantangan. Sebaliknya, kehidupan yang sedang kita jalani ibarat sebuah kapal yang berada di arung samudra besar. Kadang kita mendapati gelombang, terkadang kita juga menemukan lautan yang teduh. Dan adakalanya Tuhan mengijinkan kita untuk masuk ke dalam suatu keadaan yang sepertinya tidak ada harapan, dengan satu tujuan, untuk menguji kesetiaan dan iman kita.
Karena itu saudara-saudara sebagai seorang yang beriman, kita tidak boleh menyerah dan putus asa terhadap keadaan yang sedang kita hadapi. Sebab tangan Tuhan yang besar, sebetulnya sedang merenda kehidupan kita dan Ia menjanjikan penyertaanNya.
Melalui kisah Yunus inilah kita akan mempelajari bagaimana kondisi yang menyesakkan itu pada akhirnya memampukan seseorang untuk tetap berpaut kepada Tuhan dalam doa dan imannya.
     Saat berada di dalam perut ikan, Yunus tetap mengarahkan imannya kepada Tuhan dengan berkata,  "Ketika jiwaku letih lesu di dalam aku, teringatlah aku kepada Tuhan, dan sampailah doaku kepada-Mu, ke dalam bait-Mu yang kudus." (Yunus 2:7).  Jangan sekali-kali kita lari mencari pertolongan atau bersandar kepada manusia karena kita pasti akan kecewa dan Alkitab pun menentang hal itu.  Tertulis :  "Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari pada Tuhan!" (Yeremia 17:5).  Larilah kepada Tuhan, berseru-seru padaNya sampai pintu sorga terbuka.
     Berhentilah menggerutu dan berkeluh kesah sebaliknya tetaplah tenang dan ucapkanlah syukur kepada Tuhan, karena  "Hati yang tenang menyegarkan tubuh," (Amsal 14:30a) dan di situlah letak kekuatan kita (baca Yesaya 30:15).  Secara manusia Yunus sudah tidak memiliki harapan untuk hidup, tapi ia masih bisa berkata,  "Tetapi aku, dengan ucapan syukur akan kupersembahkan korban kepada-Mu;  apa yang kunazarkan akan kubayar.  Keselamatan adalah dari Tuhan!" (Yunus 2:9).  Dengan mengucap syukur semangat yang padam dapat bangkit kembali dan iman yang sudah lemah dapat dikuatkan.  Ingat!  Kuasa Tuhan tidak dapat bekerja apabila iman kita padam.  Sekalipun manusia berkata itu mustahil, penyakitmu tidak akan sembuh, rumah tanggamu akan hancur, selalu ada harapan dan jalan keluar di dalam Tuhan.  Tiada sesuatu yang mustahil bagi Tuhan!  Sebesar apa pun persoalan kita Tuhan Yesuslah jawaban!  Sebagaimana Tuhan sanggup mengeluarkan Yunus dari dalam perut ikan seperti tertulis:  "Lalu berfirmanlah Tuhan kepada ikan itu, dan ikan itupun memuntahkan Yunus ke darat."  (Yunus 2:10), Dia pun sanggup menolong kita.
Mayoritas penafsir Alkitab setuju bahwa apa yang diucapkan oleh Yunus di 2:1-9 merupakan refleksi balik atas peristiwa yang terjadi. Maksudnya, doa ini merupakan rangkuman pergulatan rohani Yunus dengan TUHAN selama tiga hari di perut ikan. Bentuk lampau di ayat 2 mengarah pada kesimpulan ini. Selain itu, keteraturan struktur dan keindahan kata-kata dalam doa ini rasanya sulit dihasilkan pada situasi yang sangat mencekam di perut ikan. Misalnya, bait 1 (ayat 2-4) dan bait 2 (ayat 5-7) sama-sama ditutup dengan “bait-Mu yang kudus”. Awal bait 1 sama dengan akhir bait 2, yaitu doa yang dijawab (ayat 2, 7). Kata “merangkum” (yesōbenî) muncul di ayat 3 dan 5. Pengalaman pahit yang dialami oleh Yunus mengajarkan beberapa poin theologis penting bagi kita. Kita belajar bahwa siapa saja yang melarikan diri dari Allah pasti akan semakin terpuruk. Keterpurukan hidup Yunus terlihat begitu progresif. Dari Israel ia turun ke Yopa. Dari Joppa ia turun lagi ke bagian bawah kapal (1:5). Lalu ia turun ke dalam perut ikan (1:17) dan dasar bumi  Kini dia berada di perut dunia orang mati . Kita juga belajar bahwa keterpurukan seringkali menjadi sarana pengenalan diri sendiri. Tatkala Yunus ingin melarikan diri sejauh mungkin dari hadapan TUHAN (1:3, 10), ia tampaknya tidak benar-benar memahami konsekuensinya. Jauh dari TUHAN berarti jauh dari kebaikan-Nya. Di dalam perut ikan dia baru mengecap bagaimana rasanya jika seseorang benar-benar diusir dari hadapan Allah (ayat 2a “telah terusir aku dari hadapan mata-Mu”).Pada waktu masih di atas kapal Yunus terlihat tetap tegar. Tidak ada ketakutan. Tidak ada doa yang dipanjatkan. Situasi ini berubah total ketika ia begitu dekat dengan kematian. Kematian terasa begitu nyata, misterius, dan menakutkan bagi dia. Kematian membuat siapa saja terlihat begitu lemah dan tak berdaya. Doa kini menjadi satu-satunya andalan yang tersisa (2:1-2, 7).Pelajaran terakhir yang penting: anugerah Allah adalah kehidupan yang ditujukan untuk rencana-Nya. Para penafsir setuju bahwa Yunus tidak langsung mati pada saat ditelan oleh ikan besar. Dia masih sempat berdoa (2:1). Walaupun demikian, para penafsir memperdebatkan apakah sesudah itu Yunus mati atau tetap hidup selama tiga hari. Sulit menentukan secara pasti opsi mana yang tepat. Jika harus memilih, opsi pertama tampaknya lebih masuk akal. Istilah “dunia orang mati” (sheol) di 2:2, “pintunya terpalang di belakangku untuk selama-lamanya” (2:6), dan “Engkau naikkan nyawaku dari dalam liang kubur” (2:6) secara konsisten mengarah pada pengalaman kematian (kecuali jika semua ungkapan ini hanya bersifat puitis tanpa elemen historis). Analogi antara pengalaman Yunus dan kematian Tuhan Yesus (Mat 12:40) memberi dukungan ke arah yang sama (kecuali analogi yang diberikan oleh Tuhan Yesus hanya dari sisi waktu, bukan dari sisi pengalaman).   Yunus tidak hanya diselamatkan dari kematian. Dia diselamatkan untuk menggenapi rencana Allah bagi penduduk Niniweh. Tidak cukup bagi Yunus untuk mengakui bahwa keselamatan berasal dari TUHAN (2:9). Keselamatan adalah alat, bukan tujuan akhir. Tidak cukup bagi Yunus untuk terus-menerus menikmati pengalaman ajaib di perut ikan. Dia masih harus menunaikan tugas yang belum tuntas. Ikan besar pun memuntahkan dia di darat (2:10).Seperti itulah cara kerja Allah di sepanjang Alkitab. Kita diselamatkan secara anugerah dengan tujuan tertentu, yaitu melakukan perbuatan-perbuatan baik yang sudah disiapkan Allah sejak kekekalan (Ef 2:8-10). Kebaikan Allah bukan hanya untuk disyukuri dan dinikmati, namun juga untuk dibagi. Amen. RHL. Tobing


Khotbah Minggu 06 Mei 2018
Bertekun Dalam Doa
Keluaran 32, 7-14

Doa merupakan sarana dimana kita dapat berkomunikasi dengan Tuhan. Lewat doa kita dapat menyampaikan semua permohonanan, ucapan syukur, Tapi melalui doa juga dapat menghadirkan kuasa Allah untuk mengubah suatu keadaan, menyembuhkan yang sakit, mengusir roh-roh jahat dll. Seperti apa yang dikatakan oleh Paul Yonggi Choo, "banyak doa banyak kuasa, sedikit doa sedikit kuasa". Doa dapat menghadirkan kuasa supranatural yang besar dalam kehidupan orang percaya. Namun ternyata Doa yang memiliki kuasa atau dampak tidak datang dengan sendirinya ada harga yang harus dibayar untuk memilikinya.
Doa pengampunan dosa merupakan item penting dalam setiap ibadah Gereja-Gereja Lutheran, karena ibadah yang memuji, adalah ibadah yang menyadari kesalahannya dan yang mengerti bahwa Tuhan lah maha pengampun. Dalam doa pengampunan kita diarahkan untuk semakin mengarahkan hidup ke arah yang semakin baik yang mau diubah oleh Roh Tuhan.
Mengapa perlu mohon pengampunan? Hidup manusia penuh dengan berbagai kekeliruan. Saya selalu mengibaratkan dosa seperti menyapu rumah. Meski kita menyapu setiap detik, debu atau sesuatu yang kotor tetap ada. Artinya walaupun setiap saat kita mohon ampun, tetapi debu dosa selalu hingga di hati kita oleh berbagai hal yang kita hadapi dalam kehidupan kita. Karena itu kita perlu terus menerus Memohon Pengampunan kepadaNya melalui Doa..Karena kita sadar:
1)    Allah Yang Mahakuasa dapat melakukan apa saja, tidak ada yang mustahil bagi Dia (Lukas 1:37).
2)    Allah Yang Mahakuasa mengundang umat-Nya untuk berdoa kepada-Nya. Doa kepada Allah harus dilakukan secara terus menerus (Lukas 18:1), dengan rasa syukur (Filipu 4:6), dalam iman (Yakobus 1:5), dalam kehendak Allah (Matius 6:10), bagi kemuliaan Allah (Yohanes 14:13-14), dan dari hati yang benar dengan Allah (Yakobus 5:16). 
3) Allah Yang Mahakuasa mendengar doa-doa anak-anak-Nya. Dia memerintahkan kita untuk berdoa, dan Dia berjanji untuk mendengarkan ketika kita berdoa. “Ketika aku dalam kesesakan, aku berseru kepada TUHAN, kepada Allahku aku berteriak minta tolong. Ia mendengar suaraku dari bait-Nya, teriakku minta tolong kepada-Nya sampai ke telinga-Nya” (Mazmur 18:7).
4) Allah Yang Mahakuasa menjawab doa. “Aku berseru kepada-Mu, karena Engkau menjawab aku” (Mazmur 17:6). “Apabila orang-orang benar itu berseru-seru, maka TUHAN mendengar, dan melepaskan mereka dari segala kesesakannya” (Mazmur 34:18).
Pertemuan Musa dengan Allah menjadi terganggu oleh rancangan jahat yang dilakukan bangsa tersebut. Allah telah melihat suatu perlawanan. Allah menyebut bangsa itu sebagai bangsa yang tegar tengkuk (9). Awal dari dosa ini adalah ketidak sabaran menanti pertolongan Tuhan. Kalau seseorang mengandalkan kekuatannya, tentu dia tidak akan mampu menunggu hasil kerjanya. Dia ingin cepat selesai walau hasil tidak maksimal, sehingga bisa menjadi bumerang bagi dirinya. Dan sesuatu yang dikerjakan dengan cepat tanpa memakai hikmat dari Tuhan akan mendatangkan celaka, sehingga dalam Yakobus 1, 5 dikatakan supaya meminta hikmat dari Allah untuk melewati kehidupan ini, supaya tidak gegabah dan salah mengambil keputusan, atau menyimpulkan secara salah.
Kekeliruan dan penyelewengan dalam mengambil keputusan, mendatangkan kemarahan. Allah marah pada bangsa itu. Dalam ay. 10, dikatakan.....’ supaya murka-Ku bangkit terhadap mereka dan Aku akan membinasakan mereka’. Allah tidak menyukai sikap hidup yang mengandalkan diri dan kekuatan dunia di tengah persoalan yang kita hadapi. Tuhan membenci manusia yang mendua hati, dimana memilih Allah sekaligus mammon secara bersamaan, padahal orang yang mendua hati tidak akan tenang dalam hidupnya. (Jak 1, 8). Maka adalah tepat jika penulis kitab pengkhotbah mengatakan, ‘adalah baik menanti dengan diam pertolongan Tuhan’. Jangan mencari kuasa lain, jika yang kita harapkan belum terkabul. Kemarahan Allah akibat ketidaksabaran menanti pertolongan Tuhan akan membinasakan bangsa tersebut.
Sesuai dengan nama minggu kita, rogate, berdoa, inilah inti dari khotbah ini, di mana Musa berdoa (memohon) untuk diberi pengampunan atas dosa dan kesalahan bangsa itu. Musa mewakili bangsa itu agar dibebaskan dari murka yang akan datang. Musa memohon ampun untuk sebuah kesalahan besar yang dilakukan bangsa tersebut, dengan mengingatkan Allah akan janjiNya pada tiga orang leluhur mereka, yang kepadanya Allah telah berjanji bahwa keturunan mereka akan menjadi bangsa yang besar (ay 13), sekaligus mengingatkan Allah supaya bangsa Mesir tidak menghina keputusan Allah yang membawa bangsa itu keluar, tetapi dibiarkan binasa (12).
Ada enam hal yang kita pahami dalam dialog Musa dengan Allah atas bangsa ini, yaitu :
1.    Dosa adalah maut. Bila dosa menguasai hati manusia maka upah dosa adalah maut dan kebinasaan. Melalui perikope ini, kita sebagai orang berdosa diajak untuk memohon pengampunan dosa supaya murka Allah berlalu dari kita.
2.    Kasih dan pemeliharaan Tuhan tidak pernah berhenti. Saat bangsa yang jahat itu akan dihukum, dibinasakan, bukan membuat kasih Tuhan tidak mengalir, tetapi mengalihkan aliran ke tempat di mana ada hati yang merespon. Dalam ay 10b dikatakan: “tetapi engkau akan Kubuat menjadi bangsa yang besar." Kalau kita menolak cinta kasih Allah, kasih itu tidak akan hilang tapi akan mencari hati lain sebagai tempat beroperasinya kasihNya untuk menyatakan kabaikan Allah di dunia.
3.    Doa menjangkau banyak hal. Doa berkekuatan mengubah keputusan Allah. Ketika Allah hendak membinasakan bangsa itu, doa Musa yang penuh pengharapan dan kerendahan hati membuat Allah tidak konsisten dengan keputsanNya, tetapi kerendahan hati Musa, menunjukkan bahwa Allah yang disembah adalah Allah yang konsisten dalam mengasihi umatNya.
4.    Doa bukanlah kemampuan merangkai kata, tapi doa adalah hati yang remuk redam yang mengharp pertolongan Tuhan. Bukan kebaikan Musa dan kesetiaanya pada Tuhan yang ditonjolkan ketika memohon pengampunan pada Tuhan tetapi ia mengingatkan Allah atas kebaikanNya, atas kuasaNya yang membawa bangsa itu eluar dari Mesir. Dalam doa tidak ada penojolan kebaikan atan penonjolan diri, tapi penonjolan akan kebaikan dan perhatian Allah pada umat.
5.    Doa tidak egois. Doa Musa bukan doa internal, untuk dirinya sendiri, tetapi keluar dari dirinya, di mana dia berdoa untuk keselamatan seluruh bangsa itu supaya tidak dibinasakan, supaya memperoleh kasih setia Tuhan. Maka berdoa tidak hanya memikirkan bagaiman meja makan kita boleh berisi setiap hari, tapi leboh dari itu bagaimana kita mengusahakan supaya meja makan orang lain pun berlimpah dari kebaikan Tuhan.
6.    Doa dapat mengubah hati. Doa permohonan yang dinaikkan Musa mengubah hati Allah dari yang marah menjadi mengampuni. Maka berdoa tidak sekedar menyampaikan kata-kata permohonan dan pemintaan kita pada Allah, tapi dalam doa yang kita mohonkan, kita diubah oleh kuasa Roh yang lebih dahulu mendoakan doa-doa kita.
Hidup orang yang berdoa adalah hidup yang yakin dan percaya, punya integritas. Sebab perilaku kita mempengaruhi doa kita. Musa adalah yang berintegritas tinggi, sehingga doanya berkuasa. Yakobus mengatakan, Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya (5,16b).
Permohonan Musa ini menjadi berdaya guna (sangat besar kuasanya), karena Musa mepunyai perjumpaan yang baik dengan Allah. Intimitas yang baik secara vertikal akan mengarahkan Musa pada doa yang benar. Dia menjadi tahu, apa yang baik bagi kehidupan dalam hubungan horizontalnya dengan sesama. Dalam perjumpaan yang baik akan memimpin orang percaya tahu apa yang harus didoakan, diminta dan diharapkan dari Allah yang peduli dan membawa manusia pada kebaikan. Maka ketika ada hubungan yang mesra antara manusia dan Allah, manusia akan semakin pasti dengan pertolongan tangan Tuhan yang kuat. Apapun pengalaman manusia dalam kehidupan, hubungan baiknya dengan Tuhan akan membuat yakin dan percaya; ya dan amin akan jawaban-jawaban doanya, dan tidak akan membuatnya bimbang dalam keputusan Allah, baik atau tidak baik waktunya, sebab pilihannya telah jatuh dalam Kristus sebagai Tuhan dan Juru s’lamat yang membawa kebaikan menuju kekalan. Tuhan menyertai perjalanan kita. Selamat menjadi pendoa sejati! Amin.
Bagaimana menghadirkan doa yang penuh kuasa dalam kehidupan kita:
Doa yang dilakukan oleh orang benar (Yak. 5:16)
Kita sudah dibenarkan oleh anugerah Tuhan Yesus melalui pengorbanan-Nya di atas kayu salib. Itu bukan usaha kita, itu kebenaran yang dianugerahkan kepada kita sehingga secara posisi/status menjadi benar di hadapan-Nya. Namun yang dimaksudkan di atas dengan kata "benar", adalah hidup benar di didalam pengalaman kehidupan kita sehari-hari, di dalam tindakan kita, di dalam perkataan kita dan semua keberadaan kita. Yang ditekankan dalam ayat di atas adalah bagaimana orang percaya di dalam kehidupannya sehari-hari, apakah ia hidup dalam keinginan daging atau dalam keinginan Roh, mengenakan nilai-nilai Kristus atau mengenakan nilai-nilai dunia ini. Apa yang dihidupi seseorang di dalam kehidupannya sangat menentukan kemenangan dan kekalahan seseorang di dalam kehidupan doanya. Semakin seseorang dapat menundukkan dirinya di bawah otoritas Firman Tuhan tiap-tiap hari semakin besar manifestasi kuasa Allah di dlam dirinya.
Doa yang dilakukan oleh orang yang memiliki iman (Yak. 5:15)
Setelah kita dapat melatih hidup kita untuk menundukkan daging kita dan hidup di dalam keinginan Roh, di sisi yang lain kita perlu memiliki "iman". Sebab Firman Tuhan berkata,
"Hendaklah ia memintanya dalam iman, dan sama sekali jangan bimbang, sebab orang yang bimbang sama dengan gelombang laut, yang diombang ambingkan kian kemari oleh angin." (Kis. 1:6).
Yang dimaksudkan ayat di atas adalah kita tidak boleh dengan sikap yang ragu-ragu ketika sedang datang kepada Tuhan untuk berdoa karena orang yang bimbang tidak memperoleh apa-apa. Untuk itu "iman", perlu kita pelihara, jaga, dan tingkatkan dengan memberinya makanan "Firman Tuhan".
Doa yang dilakukan oleh orang yang memiliki kepekaan rohani (Kis. 16:18)
"Kepekaan rohani", sangat diperlukan di dalam doa. Sensitivitas rohani tidak datang dengan sendirinya di dalam diri kita. Itu perlu dilatih dan diasah, seperti Samuel yang mula-mula di dalam pelayanannya harus belajar bagaimana mendengar "suara Tuhan". Kita perlu tau terlebih dahulu roh territorial apa yang menguasai wilayah, kelompok atau seseorang. Dan hal itu diperlukan kepekaan rohani atau kemampuan mendengar suara Tuhan. Supaya doa kita menjadi lebih efektif dan mengena kepada sasarannya. Jadi kita perlu melatih kepekaan rohani di dalam doa, puasa, dan Firman Tuhan setiap hari. Kiita perlu belajar untuk hidup dalam firman Tuhan, hidup dalam kehendak Roh Kudus dan memiliki iman di dalam berdoa. Amen. RHL





Khotbah Minggu 13 Mei 2018
Tuhan mendengar doa, menyembuhkan penyakit, dan memperpanjang umur kita
Khotbah: 2 Raja-raja 20:1-7
Matius 9:27-31
Coba kita Bayangkanlah diri kita sebagai seorang pekerja sukses yang berkarya di sebuah kantor akuntansi besar. Usia baru lima puluh tahun dan masih mempunyai banyak hal yang ingin dilakukan dan kerjakan disepanjang sisa hidup kita itu, paling tidak, rencana pensiun yang menarik. Tetapi suatu hari dokter mengatakan kepada Anda bahwa Anda mengidap kanker otak yang tidak bisa dioperasi dan di vonis hidup hanya tinggal 100 hari.
Bagi seorang bernama Eugene O’Kelly, apa yang bapak dan ibu bayangkan tadi adalah kenyataan dalam hidupnya. Kisah hidupnya itu dituangkan dalam bukunya yang berjudul “Chasing Daylight” (Mengejar Mentari Pagi). Pada 24 Mei 2005, Eugene menerima berita yang menghancurkan rencana hidupnya itu.
Saat dia mengetahui keseriusan penyakitnya, dia melakukan apa yang sudah terlatih dilakukannya sebagai seorang akuntan – dia menyusun daftar: 
1. Keluar dari pekerjaan saya. 
2. Memilih pengobatan medis yang memperbolehkan saya untuk ... 3. Memanfaatkan waktu yang tersisa dengan sebaik-baiknya dan sebaik mungkin bagi mereka yang paling berpengaruh dengan kondisi saya. Bahkan Eugen menyusun daftar pekerjaan untuk hari-hari terakhirnya: 
Menyelesaikan urusan hukum dan keuangan, membuka hubungan, mempermudah, hidup untuk hari ini, menciptakan momen-momen bahagia, memulai masa peralihan ke keadaan berikutnya, merencanakan pemakaman dan tetap bersemangat sampai akhir. Kita pasti tahu bahwa di dalam Alkitab, ada seorang Raja Israel yang juga mengalami pengalaman yang sama. Dia tahu berapa lama lagi dia hidup di dunia ini.
Hizkia sakit keras (ayat 1), tetapi ketika Hizkia berdoa kepada Allah untuk memohon belas kasih-Nya, maka Allah memperpanjang 15 tahun lagi usia Hizkia (ayat 6). 
Yang menarik adalah data yang bisa kita temukan dari perikop paralelnya di II Tawarikh 32:24-33. Di sana kita mendapat keterangan yang cukup mengejutkan. Dikatakan dalam teks II Tawarikh itu bahwa pasca usia Hizkia diperpanjang 15 tahun, pada awalnya Hizkia sempat terjatuh dalam dosa keangkuhan (ayat 25). Bersyukur karena Hizkia segera berbalik dari keangkuhannya itu dan memulai sebuah hal yang baik bagi Israel di sisa waktu hidupnya itu. Mulai dari membangun tempat-tempat perbekalan (ayat 27-28), mendirikan kota-kota yang baru (ayat 29), dan membuat bendungan air bagi tanah Israel (ayat 30). Hari ini, betul memang kita tidak akan pernah tahu kapan akhir ajal kita itu datang. (Sampai grup band Ungu menulis lagu yang liriknya kira-kira begini, “Andai ku tahu, kapan tiba ajalku ...”). Tetapi satu hal yang seharusnya kita tahu adalah bahwa kita tak akan selamanya ada di dunia ini. Hidup kita ini terbatas. Bahkan ada banyak orang yang bila sudah memiliki koleksi umur yang “sudah banyak” menjadi agak enggan menyanyikan lirik lagu “Panjang Umurnya” bukan? Kenapa? Karena sebetulnya bukan jadi malah bertambah, melainkan justru makin berkurang dengan bertambahnya usia kita hari ini. 
Satu hal yang menjadi renungan kita pada Minggu Exaudi ini adalah ketika hari kita di dunia ini semakin berkurang, sudahkah kita melakukan sesuatu yang berarti bagi orang-orang yang ada di sekitar kita dan terlebih bagi Tuhan? Baik Eugene O’Kelly maupun Hizkia pada akhirnya menyadari bahwa hidup mereka itu sesingkat itu di dunia ini.
 Dan mereka memutuskan untuk mengisi sisa waktu di dunia ini dengan hal-hal yang baik dan berguna. 

Bagaimana dengan bapak dan ibu hari ini? Bolehkah saya mengajak kita semua hari ini untuk membayangkan apabila pengalaman Eugene yang memiliki sisa waktu hidup hanya 100 hari itu adalah, katakanlah, akhir hidup kita di dunia ini yang tinggal 100 hari lagi. Hanya membayangkan saja, apa yang akan bapak dan ibu lakukan dengan waktu yang tersisa 100 hari itu dalam kehidupan keseharian bapak dan ibu hari ini? 
Belas kasihan Tuhan. Tuhan menjawab doa Hizkia karena belas kasihan-Nya. Di dalam 2 Tawarikh 32:24-26 dikatakan: Hizkia jatuh sakit, sehingga hampir mati dan ia berdoa kemudian Tuhan memberikan tanda ajaib tetapi Hizkia tidak berterimah kasih, malah menjadi angkuh. Tetapi akhirnya ia sadar dan merendahkan diri, sehingga murka Tuhan tidak menimpanya dan ia beroleh belaskasihan Tuhan. Sepanjang hidup kita adalah anugerah dan belas kasihan Tuhan. Hanya belas kasihan Tuhan dalam kehidupan kita, maka Ia menjawab permohonan kita dan memberikan kita yang terbaik.
Kiranya firman Tuhan hari ini mendorong kita semakin dekat kepada Tuhan dan mau berkomunikasi dengan Tuhan. Setiap hari  dalam segala keadaan kita harus menyapa Tuhan melalui doa. Kalau kita mau disapa oleh Tuhan maka terlebih dahulu kita harus menyapa Tuhan. Tuhan memberkati.
Kitab 2 Raja-Raja menunjukkan dengan jelas bahwa dosa dan ketidaksetiaan para raja Yehuda (yaitu keturunan Daud) mengakibatkan pembinasaan Jerusalem dan kerajaan Daud. Akan tetapi, perjanjian baru juga menunjukkan dengan jelas, bahwa Allah di dalam kesetiaanNya menggenapi janji perjanjiannya kepada Daud melalui Yesus Kristus, “Anak Daud”, (Mat 1:1; Mat 9:27-31: Mat 21:9), yang masa pemerintahan dan kerajaanNya takkan pernah berakhir (Luk 1:32-33; bd. Yes 9:7).
Siapakah Raja Hizkia ? Dia merupakan raja ke-13 dalam sejarah kerajaan Yehuda (Israel selatan). Dia seorang dari beberapa raja Yehuda yang memiliki nilai baik. Menurut 2Raja 18:3, “la melakukan apa yang benar di mata Tuhan, tepat seperti yang dilakukan Daud, bapa leluhurnya.” Dia dilukiskan Alkitab sebagai raja yang punya hubungan akrab dengan Allahnya. Hizkia adalah seorang reformis (pembaharu).
Reformasi yang dilakukannya bukan pembaharuan dalam arti “di luar” melainkan “di dalam” kerangka Alkitab. Sama seperti Martin Luther yang melakukan reformasi dengan “back to the Bible” (kembali kepada Alkitab), demikianlah juga Hizkia justru melakukan pembaharuan dengan kembali kepada firman Tuhan.

Reformasinya dilakukan dengan mengimplementasikan ketaatan hidup pada masa kini juga. Seluruh negeri dibersihkannya. Mezbah, berhala / dewa asing dan tempat pemujaannya dihancurkan. Bahkan ular tembaga Musa yang dibuat saat di padang pasir dahulu kala tidak luput dari penghancuran karena ular buatan itu tidak lagi mengarahkan mata orang kepada Allah melainkan sudah menjadi berhala. (2 Raja 18:4: “Dialah yang menjauhkan bukit-bukit pengorbanan dan yang meremukkan tugu-tugu berhala dan yang menebang tiang-tiang berhala dan yang menghancurkan ular tembaga yang dibuat Musa, sebab sampai pada masa itu orang Israel memang masih membakar korban bagi ular yang nama disebut “Nehustan”. Bait Allah di Yerusalem, yang pintu-pintunya dikunci oleh ayahanda sang raja (yakni Raja Ahas), kini dibuka dan dibersihkan. Kelemahan Hizkia adalah bahwa dia egois dalam arti mementingkan masa pemerintahannya saja (hanya fokus untuk menjawab permasalahan sekarang) sehingga dia gagal (tidak mau) mengantisipasi masa depan.Keberhasilannya melakukan pembaharuan justru membuatnya menjadi bangga bahkan sombong. Tindakannya yang tidak bijaksana dengan memperlihatkan segala kekayaannya kepada utusan Kerajaan Babel membuat Yehuda masuk dalam daftar bangsa bangsa yang akan ditaklukkan Babel. Ketika Nabi Yesaya memberitahukan kebodohannya itu, jawabannya mencerminkan betapa sang raja memang sungguh tidak peduli dengan masa depan kerajaannya. Jawabnya adalah( 2 Raja 20:19) “Sungguh baik firman Tuhan yang engkau ucapkan itu!” Tetapi pikirnya’ “Asal-ada,damai dan keamanan seumur hidupku!” Jelas sekali, dia bersyukur karena seluruh malapetaka yang akan menimpa Yehuda tidak terjadi pada masa hidupnya, melainkan sesudah kematiannya. Kehidupan tiga raja sesudahnya Manasye, Amon, dan Yosia sangat dipengaruhi oleh prestasi dan kelemahan Hizkia ini.
Pokok-pokok Khotbah

1.Saat menderita sakit adalah saat untuk berdoa secara khusus. Selama 100 tahun lebih dalam sejarah Yehuda (732-640 sebelum Kristus), Hizkia adalah satu satunya raja yang setia beriman kepada Tuhan. Sesudah Nabi Yesaya memperingatkan bahwa kematiannya sudah dekat, Raja Hizkia segera berdoa kepada Tuhan. “Ah Tuhan, ingatlah kiranya, bahwa aku telah hidup di hadapanMu dengan setia dan dengan tulus hati dan bahwa aku telah melakukan apa yang baik di mataMu” (ayat 3). Karena iman dan doanya, Allah menyembuhkan penyakitnya dan menyelamatkan kotanya dari serangan kerajaan Asyur. Di samping itu, Tuhan juga memperpanjang (menambah) umur sang raja 15 tahun lagi. Lman dan doa, jika keduanya dilakukan dengan sungguh-sungguh dan langsung ditujukan kepada Allah yang hidup, dapat mengubah setiap keadaan.

2.Kematian pasti datang dan itu mestinya membuat kita semakin dekat kepada Allah. Itulah sebabnya, setiap orang Kristen diwajibkan mengingat saat kematiannya [yang pasti akan datang].  Dalam hal kematian, semua orang pasti akan menjalani tahapan akhir kehidupan didunia ini. Baik pengemis maupun seorang raja semua sama dalam hal ini. Semua menuju akhir hidup. Apabila dipikir-pikir, saat kematian terasa menjadi berat karena kita akan berpisah dengan semua yang kita miliki: keluarga, pekerjaan, jabatan, sahabat, harta kekayaan bahkan kita akan meninggalkandunia ini.  Pada hal banyak urusan yang belum terselesaikan. Namun kematian memberi orang beriman suatu sukacita, karena kita akan bertemu dengan Allah kita.

3.Hidup dan mati adalah mutlak di tangan Allah. Penyembuhantanpa berkat Allah adalah sia-sia. Dalam 20:7 dikatakan oleh Yesaya: “Ambillah sebuah kue ara!” Lalu orang mengambilnya dan ditaruh pada barah itu, naka sembuhlah ia”. Bukan kue ara itu yang sesungguhnya menyembuhkan penyakit baginda tapi berkat Tuhan semata. Apabila kita sakit, kita harus yakin bahwa sumber segala kesembuhan adalah Tuhan. Dokter, obat, dll, hanyalah alatNyauntuk menunjukkan kebaikanNya kepada orang yang dikasihani’ Nya.
4.Kesehatan yang dipulihkan harus digunakan dalam memperbaiki perenungan kepada Allah.Dalam tiga hari sesudah disembuhkan, (20:5: pada hari yang ketiga engkau akan pergi ke rumah TUHAN), baginda harus pergi menyampaikan kurban sebagai tanda syukurnya atas berkat Allah. Apabila sekarang ini kita masih diberi hari yang baru, itu adalah berkat Tuhan yang sudah sepatutnya kita syukuri. Dia masih memberi kita kesempatan untuk beribadah kepadaNya.
Apakah Allah masih bekerja hari ini, masih mendengar doa kita, masih menyembuhkan penyakit kita, masih memperpanjang umur kita? Ya, tentu saja, Dia tidak saja bekerja pada zaman Alkitab, tetapi juga sepanjang zaman sampai hari ini, bahkan hingga selama-lamanya. Amen. RHL. 


Khotbah Minggu 17 Juni 2018 2 Petrus 3 : 1 – 13 Menantikan Hari Tuhan Dengan Setia


Surat II Petrus ini mengingatkan kita kepada kedatangan janji Tuhan yang dinamakan juga dengan Parusia. Kapankah kedatangan Tuhan yang disebut dengan Parusia itu? Konsep waktu TUhan dengan manusia berbeda. Di dalam ayat 8 dikatakan bahwa seribu tahun sama dengan 1 hari atau 1 hari sama dengan 1 tahun di mata Tuhan (Mzm 90:4). Karena mengenai waktu kapan kedatangan Tuhan itu adalah merupakan otoritas ataupun kuasa Allah. Tapi yang penting atau perlu di dalam khotbah kita pada saat ini adalah kita menunggu dengan sabar, setia dan tekun kapan waktu saja. Walaupun banyak orang berfikir dan beranggapan bahwa Tuhan itu lupa atau lambat memenuhi janjinya tapi Tuhan itu sabar dan punya rencana supaya setiap orang dapat bertobat dan selamat. Manusia diberi mengevaluasi dirinya untuk bertobat, berubah sikap dari yang tidak baik menjadi baik. Dapat kita lihat bahwa bagaimana Tuhan memberikan waktu dan kesempatan bagi kita manusia. Gambaran kedatangan Tuhan itu juga digambarkan seperti kedatangan pencuri, waktunya kita tidak tahu karena Tuhan tidak mengumumkannya atau memberitahukannya terlebih dahulu. Langit akan lenyap. BUmi dan segala yang ada di atasnya akan hilang dan lenyap. Apakah yang dibuat oleh orang yang beriman kepada Tuhan? Rasul Petrus mengatakan,” Kamu harus hidup tidak bercela dan berkenan di hadapan Tuhan, bersih dan tidak bercela di hadapanNya”.Tujuan Petrus menyampaikan surat ini adalah agar mereka dengan tekun mengejar kesalehan dan pengenalan yang benar akan Kristus. Selain itu Petrus juga ingin menolak dan menentang tindakan para nabi palsu di kalangan gereja Asia Kecil yang mencoba meruntuhkan kebenaran Injil. Petrus menasihatkan agar orang percaya senantiasa waspada supaya mereka tidak terseret ke dalam kesesatan orang-orang yang tidak mengenal hukum. Petrus ingin agar mereka bertumbuh dalam kasih karunia dan dalam pengenalan akan Tuhan dan Juruselamat, Yesus Kristus. Khusus dalam pasal 3 ini, Petrus menentang keraguan para nabi palsu akan kedatangan Kristus yang kedua kalinya dan memastikan bahwa Yesus akan datang untuk keduakalinya untuk mengadakan penghakiman kepada segenap umat manusia.
1.      Tuhan Tidak Pernah Lalai dengan Yang Dijanjikan-Nya Pasal 3:1-7 Petrus menjelaskan bagaimana situasi kehidupan manusia sebelum masa Hari Tuhan itu datang. Para guru-guru palsu dan para pengejek-pengejek yang hidup menurut hawa nafsunya akan tampil untuk menggoyang iman percaya orang Kristen. Mereka akan mengatakan, “Di manakah janji tentang kedatangan-Nya itu? Sebab sejak bapa-bapa leluhur kita meninggal, segala sesuatu tetap seperti semula, pada waktu dunia diciptakan.” Mereka sebenarnya sudah tahu bahwa hari Tuhan itu ada, namun karena tak kunjung datang, maka mereka tidak lagi percaya akan hari Tuhan, sebab jauh sebelum mereka lahir, tentang hari Tuhan telah dikumandangkan oleh para nabi. Untuk itu Petrus menegaskan kembali agar segenap orang Kristen tidak tidak tergoda oleh perkataan-perkataan itu. Hendaklah mereka senantiasa setia dalam penantian dengan tetap melakukan apa yang berkenan di hadapan Tuhan. Sehingga ketika hari Tuhan itu benar-benar datang, maka hari itu menjadi hari sukacita bagi mereka, namun kebinasaan bagi yang melawan kehendak Tuhan. Petrus mengingatkan agar orang percaya tidak perlu menghitung-hitung hari untuk menentukan kapan Tuhan Yesus datang untuk keduakalinya. Karena kedatangan Tuhan itu tidak dapat diperhitungkan atau diprediksi dengan perhitungan hari-hari manusia. Sesungguhnya di hadapan Tuhan satu hari sama seperti seribu tahun dan seribu tahun sama seperti satu hari.
2.      Hari Tuhan (ay. 10 – 13)
Akan tetapi kedatangan hari Tuhan itu akan benar-benar menyentak semua orang. Petrus mengumpakan-Nya seperti kedangan pencuri. Tentu pencuri biasanya datang ketika semua orang terlelap menikmati tidurnya, demikian Allah akan datang dengan tiba-tiba saat manusia menikmati hidupnya. Yang menikmati hidup dalam Tuhan akan bersukacita, sementara orang yang masih asyik menikmati hidup dalam kesibukan dan dosa-dosanya akan tersentak karena tidak ada lagi waktu keduakalinya untuk berbalik dan bertobat. Yang ada adalah hukuman kekal yang akan menyiksanya. Hari itu langit akan lenyap dengan gemuruh yang dahsyat dan unsur-unsur dunia akan hangus dalam nyala api dan bumi dan segala yang ada di atasnya akan lenyap. Untuk itu Petrus mengajarkan agar mereka tetap mempertahankan kesucian dan kesalehan hidup mereka selama masa penantian Tuhan datang. Hidup orang percaya harus dipusatkan pada Allah dan pengharapan akan menerima hidup baru di dalam-Nya. Kedatangan Tuhan yang diibaratkan sebagai pencuri juga diungkapkan oleh Paulus, “karena kamu sendiri tahu benar-benar, bahwa hari Tuhan datang seperti pencuri pada malam” (1 Tes. 5 : 2). Selain itu, di Wahyu 3 : 3, “Karena itu ingatlah, bagaimana engkau telah menerima dan mendengarnya; turutilah itu dan bertobatlah!
3.      Tugas & Tanggungjawab Orang Percaya (ay. 14 – 15)
Petrus tidak hanya mengingatkan dan meneguhkan iman orang percaya, namun juga mengajarkan mereka apa yang menjadi tugas dan tanggungjawab mereka dalam menanti hati Tuhan itu. Petrus mengajarkan mereka agar mereka tidak berdiam diri dan berpangku tangan dalam menanti kedatangan hari Tuhan. Petrus katakan, “....sambil menantikan semuanya ini, kamu harus berusaha, supaya kamu kedapatan tak bercacat dan tak bernoda di hadapan-Nya, dalam perdamaian dengan Dia”. Meskipun kedatangan hari Tuhan itu tidak pasti kapan, namun Petrus mengajar mereka agar senantiasa berusaha dan tetap hidup dalam kebenaran sehingga kapanpun hari Tuhan itu datang, tidak menimbulkan keterkejutan.Seluruh perikop ini membahas mengenai kedatangan Kristus. Ada dua istilah yang digunakan di sini, yaitu “kedatangan Kristus” (parousia, ay. 4) dan “hari Tuhan” (ay. 10). “Hari Tuhan” ditemukan juga dalam Kitab Wahyu dengan sebutan “hari Allah” (Why. 16:14). “Hari Allah” akan ditandai dengan hancurnya ‘langit’ oleh api dan mencairnya ‘unsur-unsur langit’. Kita tidak tahu secara pasti bagaimana proses itu terjadi, tetapi hal tersebut jelas disebabkan oleh “hari Allah” dan bukan merupakan bencana alam atau sesuatu yang disebabkan oleh kecerobohan manusia. Allah akan mengangkat langit dan bumi yang lama dan mempersiapkan jalan untuk langit dan bumi yang baru (Why. 21:1; 2Ptr. 3:13). Rasul Petrus tidak bermaksud menakut-nakuti orang Kristen, dengan apa yang dipaparkannya ini, melainkan untuk mengingatkan bahwa segala sesuatu yang mereka perbuat di bumi ini bersifat sementara. Hanya hidup dalam ketaatan kepada Allah akan memberikan hidup kekal (1 Yoh. 2:17). “Hari Allah” merupakan saat di mana mereka menerima ganjaran tersebut.Kita sedang berada dalam masa penantian datangnya hari Tuhan. Kita harus terus rnengingatnya, dan menata hidup untuk hari itu. Kesadaran akan hari Tuhan itu akan menentukan cara atau pola hidup kita. Artinya, keyakinan seseorang mengenai kedatangan Kristus akan menentukan cara hidupnya. Jika manusia memiliki pengharapan hidup seperti dikehendaki oleh Petrus, maka mereka akan menjalani kehidupan yang kudus apapun konsekuensinya. Itulah sebabnya Petrus dengan penuh kesungguhan menasihatkan, “Betapa suci dan salehnya kamu harus hidup”.Jika sekarang Tuhan masih memberi kesempatan kepada kita, sebelum Hari Tuhan itu terjadi, artinya Tuhan masih berpanjang sabar terhadap kita. Dia tidak ingin “seorang pun binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat.” Maka itu kita harus segera bertobat dan menjalani hidup kudus sehingga berkenan di hadapan Allah sampai kepada akhir dunia ini. Memang kita tidak tahu kapan hari Tuhan itu terjadi, tetapi hari itu pasti datang. Kita diberi waktu untuk mempersiapkan diri menyambut kedatangan-Nya. Mari kita bertanya: sudahkah hidup saya diarahkan untuk menyambut hari Tuhan tersebut? Apakah kita sudah menggunakan waktu dengan baik untuk mempersiapkan diri menyambut kedatangan Yesus kedua kali?Petrus telah membuat kita tercengang. Di satu pihak, bayangan kita akan bumi yang dilahap oleh bola api bersama seluruh hasil karya dan budayanya mengguncangkan jiwa karena kita merupakan bagian dari zaman ini. Di pihak lain, pandangan bahwa hidup yang kudus dapat mempercepat kedatangan Kristus dan dengan demikian mempengaruhi seluruh alam semesta membangkitkan perasaan bahwa kita memiliki hak istimewa yang menakjubkan. Petrus berharap bahwa secara bersama-sama kedua pandangan di atas akan mendorong orang Kristen untuk menanti-nantikan kedatangan Kristus dan menjalani kehidupan kudus dengan penuh kesungguhan hati.Ya, kita menanti hari itu dengan kesungguhan hati sambil berjaga-jaga. Kita berjaga-jaga bukan saja terhadap perubahan alam yang akan terjadi tetapi juga terhadap orang-orang yang dapat menggoyahkan pengharapan kita. Seperti dikatakan Petrus, “Yang terutama harus kamu ketahui ialah, bahwa pada hari-hari zaman akhir akan tampil pengejek-pengejek dengan ejekan-ejekannya, yaitu orang-orang yang hidup menuruti hawa nafsunya. Kata mereka: “Di manakah janji tentang kedatangan-Nya itu?” …(ay. 3-4). Banyak orang tidak dapat bertahan terhadap orang-orang seperti, membuat banyak dari kita yang berpaling…. Berjaga-jagalah!
Nats ini 1.        mengingatkan kita, bahwa kita  sama sekali tidak perlu merasa takut dan khawatir akan kedatangan akhir dunia. Sebaliknya, umat Kristiani sebarusnya merindukan kedatangan Yesus Kristus untuk kalinya, sebagai sebuah peristiwa pembebasan/ pelepasan penuh bagi kita, akhir dari semua ikatan, kemenangan final Tuhan Yesus Kristus.
2.        Setidaknya ada 4 hal pokok yang perlu kita miliki dalam menyongsong kedatangan Tuhan Yesus yang keduakalinya. Pertama, Hidup dan Percaya. Kedua, Berbalik dan Bertobat. Ketiga, Menjalin Hubungan dan Komunikasi dengan Tuhan dalam Doa.Keempat, Taat dan Mau Diatur (Firman ) Tuhan. Keempat prinsip dasar ini akan menuntun orang percaya untuk senantiasa sabar dalam pengharapan menanti Hari Tuhan sembari melakukan apa yang berkenan di hadapan-Nya. Amen

Khotbah Minggu 10 Juni 2018 Yesaya 41, 14-20 Allah Yang Maha Kudus, Penolong, dan Penebus.



Rasa takut adalah hal yang alami di dalam diri seseorang..kadangkala rasa takut bisa muncul diluar jangkauan pemikiran seseorang…
"Di manakah Engkau, Tuhan?" Kalimat tanya bernada menggugat ini sering kita lontarkan saat Tuhan terasa meninggalkan kita dalam ketakutan, apalagi pada saat itu kita justru sangat membutuhkan uluran tangan-Nya. Benarkah Tuhan meninggalkan kita pada saat yang dernikian? 
kita pasti pernah mendengar kisah Foots Print, ilistrasi Jejak-jejak Kaki . Kita berjalan-jalan di pantai bersama Tuhan. Pada saat yang sangat bahagia, kita melihat dua pasang jejak kaki di belakang kita. Sepasang kaki kita dan sepasang kaki Tuhan. Anehnya, justru pada saat kita menghadapi masa-masa yang paling sulit,masa masa menakutkan, kita melihat: jejak kaki itu tinggal sepasang. Di situlah kita menggugat, "Di manakah Engkau, Tuhan?" Tuhan menjawab dengan tepat dan mengharukan. "Anak-Ku, engkau sangat berharga di mata-Ku, Aku sangat mengasihi engkau dan Aku tidak akan meninggalkan engkau….
Pada waktu engkau dalam bahaya dan dalam penderitaan engkau hanya melihat sepasang jejak kaki saja,
karena pada waktu itu Aku menggendong engkau."…
Orang yang takut bukan berarti tidak percaya kepada Tuhan..ada berbagai macam ketakutan manusia, termasuk kita umat Tuhan yang hadir saat ini di Bait Nya…
• Ada yang takut pada petir, hujan lebat, suara gemuruh..
• Ada yang takut berenang, takut tenggelam, takut dengan kedalaman laut, danau, dan sungai..
• Ada pula yang takut pada ketinggian, takut jatuh…
• Dan ada banyak trauma, ketakutan-ketakutan lainnya..
Saudara-saudari terkasih....
Umat Israel juga di dalam nats kita pada minggu ini berada dalam situasi “Takut“.ini adalah kondisi ketika Israel dibuang ke Babel. layaknya orang yang : terpenjara, terkurung, dan tertawan, umat pilihan Tuhan tak berdaya diantara bangsa-bangsa disekelilingnya.
di ayat 14 dikatakan : Janganlah takut, hai si cacing Yakub, hai si ulat Israel! Akulah yang menolong engkau, demikianlah firman TUHAN, dan yang menebus engkau ialah Yang Mahakudus, Allah Israel”. Simbol cacing yakub dan ulat Israel menggambarkan Tanpa TUHAN, Israel tidak lebih dari seekor cacing dan ulat yang lemah, yang tak berdaya dan yang dengan mudahnya diinjak oleh dunia. kita harus menyadari betapa kecilnya, betapa lemahnya dan betapa tak berdaya nya kita dihadapan Tuhan. Ayat ini mengingatkan kita umat Tuhan, untuk tidak pernah merasa hebat, tetapi harus menyadari semua yang kita dapat, yang kita alami di dunia ini hanya kasih karunia dari Tuhan saja. Ulat dan cacing adalah spesies binatang melata, yang lemah dan bila disbanding dengan binatang/hewan2 lainnya yang lebih besar, lebih kuat, dan buas, ulat dan cacing tidak ada apa-apa nya.ini menunjukkan “ketergantungan umat Israel kepada Tuhan”.Di ayat 15 dikatakan : Sesungguhnya, Aku membuat engkau menjadi papan pengirik yang tajam dan baru, dengan gigi dua jajar; engkau akan mengirik gunung-gunung dan menghancurkannya, dan bukit-bukitpun akan kaubuat seperti sekam.kemudian di ayat 16 dikatakan : Engkau akan menampi mereka, lalu angin akan menerbangkan mereka, dan badai akan menyerakkan mereka. Tetapi engkau ini akan bersorak-sorak di dalam TUHAN dan bermegah di dalam Yang Mahakudus, Allah Israel. Ayat ini merupakan penggambaran bagaimana TUHAN mampu membuat mujijat, bagaimana Tuhan mampu memberi kesempurnaan kekuatan untuk menjaga bangsa Israel. Bagaimana Tuhan memberi kekuatan dan harapan untuk Israel..
Kadang kala didalam kehidupan kita, kita merasa sangat lemah, tidak berdaya , menderita, tidak punya harapan lagi dan boleh dibilang hancur lebur. Situasi yang kadang tidak ada jalan keluarnya bagi akal manusia. Kita terpuruk dan merasa seolah sudah tidak ada harapan lagi didalam hidup kita.
Mari kita lihat ayat 17 hingga ayat 19 : Orang-orang sengsara dan orang-orang miskin sedang mencari air, tetapi tidak ada, lidah mereka kering kehausan; tetapi Aku, TUHAN, akan menjawab mereka, dan sebagai Allah orang Israel Aku tidak akan meninggalkan mereka.Aku akan membuat sungai-sungai memancar di atas bukit-bukit yang gundul, dan membuat mata-mata air membual di tengah dataran; Aku akan membuat padang gurun menjadi telaga dan memancarkan air dari tanah kering.Aku akan menanam pohon aras di padang gurun, pohon penaga, pohon murad dan pohon minyak; Aku akan menumbuhkan pohon sanobar di padang belantara dan pohon berangan serta pohon cemara di sampingnya. Di dalam ayat ini Tuhan memberikan janji kepada umatnya bahwa bagaimanapun keadaannya Tuhan akan selalu menolong,menyertai dan menopang kehidupan kita. Penderitaan yang menyedihkan atau menghadapi masa2 penuh bahaya paling suram pun. TUHAN akan melimpahkan semua kebutuhan umatnya, menyegarkan jiwa dengan makanan dan minuman, menyediakan taman taman rindang yang indah dan hutan hutan kecil bagi kesenangan rohani kita. Tujuh spesies pohon menggambarkan kesempurnaan karya Tuhan dalam memenuhi kebutuhan ini. 
• Pohon Aras
• Pohon Penaga
• Pohon Murad
• Pohon minyak
• Pohon sanobar
• Pohon berangan
• Pohon cemara
Lambang 7 pohon menggambarkan : kesempurnaan penciptaan Tuhan, angka 7 adalah angka kesempurnaan, sangat sering ditemukan di dalam Alkitab.
Pemeliharaan penuh rahmat ini menguatkan iman umat TUHAN dan bersukacita dalam kesetiannya.namun terkadang betapa sering kita jatuh kedalam keraguan akan kesempunaan pemberian Tuhan .
Suatu hari ada seorang ibu yang ingin berangkat ke suatu daerah..sang ibu berpesan kepada suaminya agar tak lupa memberi makan anak mereka.semua makanan sudah disiapkan di lemari es. Esok harinya si bapak me manaskan makanan dan sembari mengeluarkan pudding ke atas meja makan. Lalu si anak bangun dan mengambil langsung pudding tersebut. Tetapi si bapak mengambil pudding itu dan menyimpannya kembali ke dalam lemari es. Lalu si ayah berkata…nak..kamu makan nasi dulu, setelahnya baru papa kasih pudding yah..tetrapi si anak terus menerus merengek rengek dan menangis…si anak me raung raung meminta pudding. Tetapi si ayah tetap tidak memberikannya.
Saudara saudari betapa kita sering meminta kepada Tuhan seolah 2 permintaan kita itu sudah baik adanya.padahal Tuhan Bapa kita Dia yang lebih tahu apa yang jd makanan pokok kita.
Kita sering merasa bahwa pudding itu lah yang kita mau dan inginkan…padahal itu tidak memberi pertumbuhan..kita bahkan sering merengek memohon apa yang ada didalam hati kita.
Hubungan baik dengan Tuhan akan menghasilkan hubungan baik dengan sesama manusia dan lingkungan hidup. Rusaknya hubungan antar manusia dan anatar manusia dengan alam adalah akibat pemberontakan terhadap Tuhan.bila kita perhatikan perjalanan Israel umat pilihan Tuhan… mereka dijajah oleh bangsa Asyur dan takluk kepada bangsa yang lebih kuat, pertistiwa itu dimaknai akibat Israel berbuat dosa dan yang jahat di mata Tuhan. Stabilitas politik, kemakmuran dan kesejahteraan warga serta keadaan alam yang bersahabat semuanya tergantung pada hubungan baik dengan Tuhan. Berkat Melimpah selalu disediakan Tuhan bagi orang percaya.
Pertobatan atau Metanonia, adalah starting point pemulihan keadaan orang percaya. Israel yang tidak berdaya, hancur dan putus harapan dan dijuluki sebagai “si cacing Yakub”, “ si ulat Israel “ akan mengalami tranformasi. Pertobatan mereka akan menjadi peluang untuk menikmati pemulihan keadaan secara ekonomi, politik, sosial budaya dan kerohanian. Tuhan bertindak menolong dan menebus mereka dalam keputus asaan dan ketidak mampuannya. Tuhan akan memberdayakan mereka sehingga mereka menjadi “papan pengirik yang tajam dan baru, dengan gigi dua jajar..
Di ayat terakhir dikatakan :
supaya semua orang melihat dan mengetahui, memperhatikan dan memahami, bahwa tangan TUHAN yang membuat semuanya ini dan Yang Mahakudus, Allah Israel, yang menciptakannya. Hidup bersama dengan Tuhan membuat kita mempunyai kekuatan untuk menghadai tantangan yang menghadang perjalanan jidup kita. Gunung-gunung dan bukit-bukit yang menghadang akan ditaklukkan. Yesaya menggambarkan penuh harapan itu dengan mengatakan “Tetapi engkau ini akan bersorak-sorak di dalam TUHAN dan bermegah di dalam Yang Mahakudus, Allah Israel.”.• Setiap orang yang mengarahkan diri pada Tuhan akan mendapatkan air kehidupan. Tuhan menyediakan kebutuhan hidup dan memeliharan kehidupan orang-orang percaya.
• Kesejahteran itu digambarkan dengan mudahnya mendapatkan air. Lahan kering dirubah menjadi lahan basah. Meskipun perjalanan hidup kita tak pernah lepas dari tantangan, tetapi Peluang pun akan selalu ada di sana ketika kita menjalani semuanya bersama Tuhan. • Pada minggu kali ini kita dipanggil untuk selalu mengandalkan Tuhan dalam segala aspek kehidupan kita, supaya kita tidak kuatir tentang apa pun juga. Kadang kala kita mengalami perubahan yang begitu menakutkan, dari sumber air berubah menjadi tanah kering, kadang kala kita harus berjalan tertatih seolah tidak punya kekuatan, dengan mengandalkan Tuhan kita pasti sanggup menghadapi setiap perubahan-perubahan didalam hidup kita.• Jaminan hidup, pemeliharaan dan penjagaan sejati kita dapat hanya dari Tuhan saja.karena itu, mari kita dating kepada Tuhan.
Pada akhirnya kita akan mengaku “bahwa tangan TUHAN yang membuat semuanya ini dan Yang Mahakudus, Allah Israel, yang menciptakannya.” Amin



Khotbah Minggu 03 Juni 2018 Wahyu 16:1-7 @Kekuatan Allah Atas Dunia


  Murka Allah bukan lagi memakai sepertiga alam melainkan seluruh alam semesta menjadi alat penghukuman Allah bagi seluruh umat manusia yang memusuhi Allah. Tidak ada lagi tempat bersembunyi untuk dapat menghindar dari luapan murka-Nya. Murka Allah ditujukan kepada para musuh Allah, sebagai pembalasan atas darah para martir yang telah mereka curahkan. Ini menegakkan keadilan-Nya (5-7). Tujuh murka Allah ini mirip dengan tulah zaman Musa terhadap Mesir. Semua yang tidak mau menaati-Nya, yang mengikut Iblis dengan segala bentuk mukjizat palsunya akan binasa oleh murka Allah (10-14). Meski telah sedemikian dahsyat murka Allah dan sedemikian nyata kebenaran-Nya, ternyata mereka tidak bertobat sedikit pun (9, 11, 13-14). Pada tiga cawan terakhir, murka Allah memuncak, namun pihak lawan menghimpun kekuatan terakhir mereka untuk membalas (14). Akhirnya, hanya dengan satu pukulan maha dahsyat Ilahi, mereka dihancurkan tuntas (18-21).Betapa ngeri kedahsyatan murka Allah serta kebinasaan yang diakibatkannya. Untuk pengikut Kristus, pesan Tuhan mendesak dan menghibur. Kita harus berjaga-jaga senantiasa sebab hari murka Tuhan tersebut seperti pencuri (15a). Berjaga-jaga adalah sifat sejati seorang beriman yang akan menampakkan diri dalam ketaatan dan kesetiaan menjaga hidup kudus (16b). Kita yang kini tertekan secara rohani karena melihat kejahatan makin biadab dan makin menjadi-jadi boleh terhibur bahwa semua itu kelak akan dimusnahkan dan ditiadakan oleh murka-Nya yang adil!

Camkan: Bersukalah akan keadilan, kekudusan dan peneguhan kebenaran Allah.
Penumpahan 7 cawan emas yang penuh berisi murka Allah ke atas bumi Wahyu 15:5-8 ~ 16:1-21:Cawan 1 bisul yang jahat dan berbahaya, menimpa semua yang memakai tanda binatang (= Antikristus), dan menyembah patungnya Wahyu 16:2;
Cawan 2 air laut menjadi darah, sehingga matilah semua makhluk yang hidup di dalam laut Wahyu 16:3;
Cawan 3 semua sungai dan mata air menjadi darah. “Adil Engkau, Engkau yang ada dan yang sudah ada, Engkau yang kudus, yang telah mmenjatuhkan hukuman ini. 16:6 Karena mereka telah menumpahkan darah orang-orang kudus dan para nabi, Engkau juga telah memberi mereka minum darah; hal itu wajar bagi mereka!” – Wahyu 16:4-7;
Cawan 4 matahari diberi kuasa untuk menghanguskan manusia dengan api. Manusia dihanguskan oleh panas api yang dahsyat, dan mereka menghujat nama Allah dan tidak bertobat. Sebab pada masa itu, orang tidak lagi bisa bertobat Wahyu 16:8-9;
Cawan 5 takhta dan kerajaan binatang (= Antikristus) menjadi gelap; orang-orang menggigit lidahnya karena kesakitan yang luarbiasa Wahyu 16:9-11;
Cawan 6 sungai besar, yaitu sungai Efrat, menjadi kering. Tujuannya: untuk mempersiapkan jalan bagi raja-raja yang datang dari sebelah timur. Timur bicara tentang sorga (Matius 24:27). Sungai Efrat dikeringkan untuk mempersiapkan jalan bagi Yesus yang akan segera datang dari sorga. Haleluya! Namun perhatikan, di pihak lain, Iblis dan sekutunya: Antikristus dan nabi-nabi palsu malah mengumpulkan raja-raja di seluruh dunia, dan mempersiapkan diri untuk perang Harmagedon, yaitu peperangan terakhir melawan Yesus, Sang Penunggang Kuda Putih Wahyu 16:12-16;

Cawan 7 ditumpahkan ke angkasa: mendatangkan kilat, guruh dan gempa bumi besar dan dahsyat, sehingga kota besar, yaitu Yerusalem terbelah menjadi tiga bagian, kota-kota dunia runtuh, semua pulau dan gunung hilang lenyap, hujan es besar seberat 100 pon jatuh menimpa manusia; sungguh malapetaka yang amat dahsyat – Wahyu 16:17-21.
Demikianlah ke-7 cawan berisi 7 malapetaka dahsyat yang akan menimpa semua orang yang tidak percaya pada saat Yesus datang kembali kelak.
Namun, puji Tuhan! Bagi saudara dan saya yang percaya dan hidup di dalamNya, bukan hanya nama kita terdaftar di sorga Wahyu 21:27, tetapi bahkan mendapat tempat di dalam sorga. “di dalam Kristus Yesus Ia telah membangkitkan kita juga dan memberikan tempat bersama-sama dengan Dia di sorga, supaya pada masa yang akan datang Ia menunjukkan kepada kita kekayaan kasih karunia-Nya yang melimpah-limpah sesuai dengan kebaikan-Nya terhadap kita dalam Kristus Yesus Efesus 2:6-7. Haleluya! Tuhan Yesus memberkati saudara.
Ayat 1: Dan aku mendengar suara yang nyaring dari dalam Bait Suci berkata kepada ketujuh malaikat itu: “Pergilah dan tumpahkanlah ketujuh cawan murka Allahh itu ke atas bumi.”
Dengan malapetaka ketujuh cawan murka itu, Allahh akan menurunkan murkaNya atas para hamba Antikristus dan umatnya yang masih hidup di dalam dunia ini. Semua makhluk dan manusia akan disapu oleh badai murka Allahh, yang meledak setelah bertahun-tahun masa kesabaranNya, dan mereka akan menderita karena malapetaka besar yang akan merajalela sepanjang sisa tahun-tahun Masa Kesengsaraan Besar. Pada saat ini, dunia ini akan menjadi puing-puing, dihancurkan berkeping-keping, dan dihancurkan sama sekali.
Wahyu 16 adalah pasal dimana malapetaka ketujuh cawan dicurahkan. Mereka yang, sampai ke saat akhir ini, tetap tidak percaya kepada Injil yang berisi kesksian keselamatan, yang akan memungkinkan mereka untuk diangkat ke angkasa oleh Tuhan—yaitu, Injil air dan Roh—akan dibinasakan oleh malapetaka itu.
 Ayat 2: Maka pergilah malaikat yang pertama dan ia menumpahkan cawannya ke atas bumi; maka timbullah bisul yang jahat dan yang berbahaya pada semua orang yang memakai tanda dari binatang itu dan yang menyembah patungnya.
Malapetaka berupa bisul yang jahat dan berbahaya yang Allah curahkan melalui malaikatNya akan turun ke atas mereka yang menerima tanda dari Binatang itu. Malapetaka bisul ini adalah penyakit kulit yang tidak bisa disembuhkan yang akan membuat kulit penderitanya menjadi bengkak, yang infeksinya juga akan menyebar menjadi borok yang bernanah. Betapa beratnya penderitaan ini, ketika penderitanya disiksa oleh bisul yang jahat dan berbahaya sampai hari kematian mereka? Tetapi Allahh bukan hanya akan mencurahkan malapetaka bisul kepada semua orang yang menerima tanda dari Binatang itu, tetapi Ia juga akan mencurahkan enam malapetaka yang lainnya segera sesudah itu. Dengan demikian, semua orang harus menemukan cara untuk lepas dari malapetaka itu melalui Injil air dan Roh, dan menghindar dari malapetaka yang sangat mengerikan itu dengan percaya kepada Injil itu sekarang juga, pada saat ini juga.
Tuhan kita mengatakan bahwa Ia akan mencurahkan enam malapetaka lagi kepada mereka yang menyembah Binatang itu dan patungnya. Apakah dosa yang paling dibenci Allah? Dosa ini adalah membuat patung dari suatu atau seseorang yang bukan Allah, mengilahikannya, dan tunduk kepada mereka. Karena itu kita harus tahu dengan pasti siapakah Tuhan Allah dan Yesus Kristus itu, dan percaya serta menyembah Kristus . Tidak ada sesuatu atau seseorang di seluruh alam semesta ini, selain Tuhan Allah sendiri, yang bisa menjadi Allah kita.
Kalau anda sungguh-sungguh ingin menghindar dari malapetaka bisul dan keenam malapetaka yang lainnya itu, belajarlah dan percaya kepada Injil air dan Roh yang diberikan oleh Tuhan. Orang dalam jumlah yang tidak terhitung banyaknya yang sudah melawan Allahh di dalam kehidupan sehari-harinya, dan yang menolak untuk percaya kepada Injil air dan Roh, akan menderita karena malapetaka itu sampai saatnya ketika mereka sepenuhnya dibinasakan.
 Ayat 3: Dan malaikat yang kedua menumpahkan cawannya ke atas laut; maka airnya menjadi darah, seperti darah orang mati dan matilah segala yang bernyawa, yang hidup di dalam laut.
Malapetaka yang kedua adalah laut yang berubah menjadi darah orang mati. Allahh akan membunuh semua makhluk hidup di laut dengan malapetaka ini. Karena malapetaka dari cawan yang kedua yang dicurahkan oleh Allahh, lautan akan menjadi busuk dan semua mekhluk yang ada di dalamnya tidak akan bisa lagi hidup di dalamnya. Tidak ada seorangpun yang kemudian bisa makan dari hasil laut ketika Allahh menurunkan malapetaka yang kedua ini. Melalui malapetaka kedua ini, Allahh akan menunjukkan bahwa Ia itu hidup, dan bahwa Ia adalah Tuhan atas segala kehidupan.Malapetaka yang kedua adalah penghukuman Allahh yang diberikan kepada semua manusia di dunia ini yang, bukannya menyembah Tuhan Allahh atas semua ciptaanNya, justru menyembah kepada patung Binatang itu, musuh Allahh, dan mencurahkan darah orang-orang kudus. Malapetaka yang kedua adalah yang paling layak. Allahh menunjukkan kepada kita bahwa Ia kemudian akan mengambil segala kekayaan alam dari mereka yang tidak mau bersyukur kepada Tuhan atas semua makhluk yang diciptakan oleh Allahh.
     Ayat 4-7: Dan malaikat yang ketiga menumpahkan cawannya atas sungai-sungai dan mata-mata air, dan semuanya menjadi darah. Dan aku mendengar malaikat yang berkuasa atas air itu berkata: “Adil Engkau, Engkau yang ada dan yang sudah ada, Engkau yang kudus, yang telah menjatuhkan hukuman ini. Karena mereka telah menumpahkan darah orang-orang kudus dan para nabi, Engkau juga telah memberi mereka minum darah; hal itu wajar bagi mereka!” Dan aku mendengar mezbah itu berkata: “Ya Tuhan, Allahh, Yang Mahakuasa, benar dan adil segala penghakimanMu.”Malapetaka ketiga yang akan mengubah sungai dan mata air menjadi darah itu memang malapetaka yang paling mengerikan. Malapetaka ini, yang terjadi sebagai penghukuman atas dosa-dosa semua orang yang tidak percaya kepada Allahh, kemudian akan membuat mata air menjadi darah dan membuat mustahil bagi mereka untuk bisa tetap hidup di dunia ini. Allahh akan menjadikan semua sungai dan mata air di dunia ini menjadi darah. Malapetaka ini, juga, adalah penghukuman yang diturunkan kepada manusia di dunia sebagai upah dan penghukuman dari perlawanan mereka terhadap Allahh, yang sudah memberikan kepada mereka air, akar dari segala kehidupan.Alasan mengapa Allah akan memberikan malapetaka ini kepada mereka yang melawanNya adalah karena mereka sudah membunuh orang-orang kudus dan nabi-nabiNya ketika mereka masih ada di dunia. Mereka adalah orang-orang yang tidak hanya menolak untuk percaya kepada Allahh sebagai Allahh, tetapi juga melawan Dia dalam persekutuan dengan Antikristus.Karena terpukau oleh kuasa dari Antikristus, mereka yang melawan kasih Allah di dunia ini akan menganiaya dan membunuh orang-orang kudus yang sangat dikasihi Allahh dan para hambaNya. Mereka yang tidak percaya kepada Injil air dan Roh, yang sudah Tuhan kita berikan untuk membebaskan manusia di dunia ini dari dosa, akan membunuh banyak orang-orang kudus dan nabi-nabi di akhir jaman dan menumpahkan darah mereka.  Karena itu Allahh kemudian akan mencurahkan malapetaka yang ketiga ke dunia ini dimana musuh-musuhNya hidup, mengubah air di sana, akar dari segala kehidupan, menjadi darah, dan dengan itu membinasakan mereka.Ini adalah penghukuman yang adil dari Allah, dan karena itu orang-orang kudus yang ada di angkasa akan bersukacita. Mengapa? Karena dengan keadilan penghukumanNya yang dijatuhkan kepada musuh-musuh yang sudah membunuh orang-orang kudus, Allahh akan membalaskan kematian orang-orang kudus kepada mereka. Dengan demikian, orang-orang kudus dan para hamba Allah tidak perlu merasa takut, tetapi justru mempertahankan iman mereka kepada Tuhan Allah, dan memandang ke depan kepada janji Allahh dan kuasaNya ketika mereka menghadapi kemartiran mereka
 Ketujuh meterai (Why 6:1-17; 8:1-5), sangkakala (Why 8:6-21; 11:15-19), dan cawan (Why 16:1-21) merupakan tiga seri penghakiman yang berbeda dan susul menyusul dari Allah. Penghakiman ini semakin dahsyat dan akibatnya semakin parah seiring dengan makin dekatnya akhir zaman. Ketujuh meterai, sangkakala dan cawan berhubungan satu dengan yang lain – meterai ketujuh berlanjut pada ketujuh sangkakala (Why 8:1-5). Sangkakala ketujuh berlanjut pada ketujuh cawan (Why 11:15-19; 15:1-8).
Empat meterai pertama dari ketujuh meterai dikenal sebagai keempat pengendara kuda zaman akhir. Meterai pertama memperkenalkan si Antikristus (Wahyu 6:1-2). Meterai kedua menyebabkan peperangan besar (Wahyu 6:3-4). Meterai ketiga mengakibatkan kelaparan (Wahyu 6:5-6). Meterai keempat mengakibatkan terjadinya penyakit, kelaparan yang lebih dahsyat dan peperangan yang lebih dahsyat (Wahyu 6:7-8).
Meterai kelima memberitahu kita mengenai orang-orang yang akan mati bagi iman mereka pada akhir zaman (Wahyu 6:9-11). Allah mendengar seruan mereka meminta keadilan, dan akan memberikan keadilan pada waktunya – dalam wujud meterai keenam, bersama dengan sangkakala dan cawan penghakiman. Ketika meterai keenam dibuka, gempa bumi yang dahsyat akan terjadi, mengakibatkan kehancuran yang dahsyat – bersamaan dengan berbagai fenomena astronomis yang tidak biasa (Wahyu 6:12-14). Mereka yang bertahan hidup saat itu akan berteriak, "Runtuhlah menimpa kami dan sembunyikanlah kami terhadap Dia, yang duduk di atas takhta dan terhadap murka Anak Domba itu." Sebab sudah tiba hari besar murka mereka dan siapakah yang dapat bertahan?” (Why 6:16-17).

Ketujuh sangkakala digambarkan dalam Kitab Wahyu 8:6-21. Ketujuh sangkakala merupakan “isi-”nya ketujuh meterai (Why 8:1-5). Sangkakala pertama mengakibatkan hujan es dan api yang menghancurkan kebanyakan tanaman dalam dunia (Why 8:7). Sangkakala kedua mengakibatkan apa yang kelihatannya merupakan meteor jatuh ke dalam laut dan mengakibatkan musnahnya kebanyakan makhluk hidup dalam laut (Why 8:8-9). Sangkakala ketiga sama dengan sangkakala kedua, kecuali pada dampaknya yang mempengaruhi danau-danau dan sungai-sungai, bukannya pada lautan (Why 8:10-11). Sangkakala keempat mengakibatkan matahari dan bulan menjadi gelap (Why 8:12). Sangkakala kelima mengakibatkan wabah “belalang setan” yang menyerang dan menyiksa umat manusia (Why 9:1-11). Sangkakala keenam melepaskan tentara setan yang membunuh sepertiga umat manusia (Why 9:12-21). Sangkakala ketujuh memanggil ketujuh malaikat dengan membawa ketujuh cawan murka Allah (Why 11:15-19; 15:1-8). Ketujuh cawan penghakiman digambarkandalam Kitab Wahyu 16:1-21. Ketujuh cawan penghakiman itu merupakan akibat dari dibunyikannya ketujuh sangkakala. Cawan pertama mengakibatkan bisul yang menyakitkan di antara umat manusia (Why 16:2). Cawan kedua mengakibatkan matinya semua makhluk hidup dalam laut (Why 16:3). Cawan ketiga mengakibatkan sungai berubah menjadi darah (Why 16:4-7). Cawan keempat dari ketujuh cawan mengakibatkan panas matahari menjadi amat dahsyat dan mengakibatkan sakit yang luar biasa (Why 16:8-9). Cawan kelima mengakibatkan kegelapan yang dahsyat dan kesakitan yang makin hebat karena bisul dari cawan pertama (Why 16:10-11). Cawan keenam mengakibatkan Sungai Efrat menjadi kering. Bala tentaranya si Antikristus akan dikumpulkan untuk perang Harmagedon (Why 16:12-14). Cawan ketujuh menghasilkan gempa bumi yang dahsyat; yang kemudian diikuti oleh hujan es besar (Why 16:15-21). Amen. RHL