GKPI Bandung

Visi:GKPI sebagai Persekutuan Rohani dan Agen Perubahan/Pembaharuan.
Misi:GKPI sebagai tubuh Kristus, menjalankan sungguh-sungguh Tri Tugas Panggilan (Apostolat, Pastorat dan Diakonat).


Wednesday, 12 September 2012

ALLAH SUMBER PERTOLONGAN SEJATI

Warta Jemaat : No 37_ 9 September 2012                                                                                                                                 Untuk kalangan sendiri



Rasa takut adalah salah satu musuh terbesar manusia. Rasa takut dapat menghinggapi siapa saja, termasuk orang-orang yang beriman. Respon atau tindakan atas rasa takut itulah kemudian membedakan setiap orang yang mengalami rasa takut tersebut. Apakah tindakannya berdasarkan iman atau tidak? Karena suatu tindakan tanpa dilandasi iman adalah dosa (bnd. Roma 14:23). Saat rasa takut menyerang mari kita ingat, berserahlah kepada TUHAN, andalkan Dia yang adalah sumber pertolongan sejati.
Secara khusus dalam Pasal 35 Kitab Yesaya ini TUHAN Allah Mahakudus, memberikan suatu janji membebaskan umat Allah dari rasa takut, bahwa Alllah adalah sumber keselamatan, sumber pertolongan yang sejati akan memberi keselamatan kepada Umat-Nya. Jika Amos terkenal sebagai nabi keadilan, Hosea sebagai nabi kasih maka Yesaya sebagai nabi kekudusan. Yesaya sangat menekankan kekudusan Allah dalam nubuatan-Nya, bahwa Allah yang Mahakudus menuntut dosa-dosa umatNya, mencela praktek-praktek yang menduakan TUHAN, penyembahan berhala (1:29), ibadah yang berlumur dosa, ibadah-ibadah kafir (2:6-8; 17:7). Namun di sisi lain, Allah yang Mahakudus tidak akan membiarkan umat-Nya terus menerus dikuasai rasa takut, janji-Nya akan dilaksanakan. Dalam amanat Yesaya senantiasa berkumandang suatu janji “Suatu sisa akan kembali” (Pasal 6:3).

PENJELASAN
Kitab Yesaya Pasal 1-39 memiliki konteks umum/luas yakni sebelum pembuangan Babel. Yesaya bernubuat kepada umat TUHAN, yang telah memberontak kepada Allah yang Mahakudus (Pasal 1). Dan karenanya kehancuran yang hebat akan terjadi sebagai wujud hukuman Allah yang akan datang lewat bangsa-bangsa besar di sekitar mereka.
Merujuk kepada konteks khusus sejarah Israel Selatan, yaitu Yehuda, umat TUHAN sedang mengalami krisis politik yang hebat. Kerajaan Asyur begitu kuat dan mengembangkan daerah Israel Utara, khususnya dibawah kepemimpinan Tiglat Pileser III (745-727sM), dilanjutkan kemudian oleh Raja Salmeneser V (727-722 sM), diikuti oleh penggantinya Sargon II (722-705 sM), dan pada saat kepemimpinan Sanherib (705-681 sM) bala tentara Aysur tampaknya segera akan mengepung Jerusalem atau Israel Selatan untuk menguasainya (bnd. Pasal 36). Mereka sangat terdesak, ketakutan bukan main, lalu meminta bantuan ke Mesir, meminta perlindungan Firaun (30:2). Inilah yang menjadi persoalan, sama seperti yang dilakukan oleh raja Ahas, Raja Yehuda yang ketakutan terhadap kekuatan Aram dan Israel (Utara) yang mengancam (734 sM), dan karena rasa takutnya kemudian membuat dia melakukan tindakan bodoh di hadapan Allah, meminta bantuan kepada Asyur (Pasal 7). Sepertinya sejarah ini terulang kembali, kalli ini pemimpin-pemimpin Yehuda kembali meminta pertolongan kepada Mesir justru karena ketakutan akan pasukan Asyur.
Apa yang membuat Allah marah? Dalam Pasal 30 ayat 1-2, Yesaya menyampaikan pesan Allah: “Celakalah anak-anak pemberontak … yang melaksanakan suatu rancangan yang bukan dari padaKu, yang memasuki suatu persekutuan, yang bukan oleh RohKu … yang berangkat ke Mesir dengan tidak meminta keputusanKu …”. Bangsa Yehuda dalam mengatasi rasa takutnya lebih megutamakan persekutuan dengan manusia, lebih mengandalkan bangsa yang kuat menurut pemikiran mereka, tidak mengutamakan dan mengandalkan Tuhan. Inilah yang melatarbelakangi seruan dalam teks ini.
1.  Kuatkanlah hati, jangan takut!
Tawar hati, kecut, takut, inilah yang menghinggapi perasaan umat Allah pada saat itu. Karena itulah kemudian Allah melalui Yesaya menyerukan: “Kuatkanlah hati, janganlah takut! Lihatlah Allahmu akan datang …”. Yesaya memberi suatu penghiburan, janji penyelamantan, bahwa di tengah krisis yang dihadapi oleh bangsa itu, Allah tidak akan tinggal diam. Sekalipun Allah mencela dan membiarkan umat Allah diserang oleh bangsa lain, itu bukan berarti Allah akan membiarkan hal itu terus berlangsung. Allah akan datang dengan pembalasan dan ganjaran. Dia akan berperang terhadap musuh-musuh mereka, Allah sendiri akan datang menyelamatkan mereka. Itu berkaitan erat dengan pernyataan Yesaya dalam Pasal 31 ayat 2. Lewat seruan ini sesungguhnya Yesaya sedang meluruskan pandangan umat TUHAN yang sedang dalam ketakutan dan penderitaan, bahwa mengandalkan manusia, mempersekutukan diri dengan kekuatan dunia untuk mengatasi persoalan bukanlah merupakan tindakan yang bijaksana. Ketidaksabaran untuk menanti keputusan dari Tuhan (Pasal 30:1-2) bertentangan dengan kehendak-Nya. TUHAN Allah bukanlah Allah yang akan membiarkan umat-Nya terus menerus menghadapi penderitaan. Dia tidak memutuskan janji keselamatan hanya oleh karena dosa-dosa mereka. Allah akan menyelamatkan mereka. Karena itu umat-Nya diajak untuk bersikap tangguh, kuat hati, sabar, menanti waktu TUHAN, dan yang paling utama adalah berbalik memandang TUHAN dalam kehidupan keseharian mereka di tengah-tengah penderitaan itu.
2.  TUHAN Allah akan memulihkan umat-Nya!
Penderitaan hebat yang sedang dan masih akan terjadi terhadap umat TUHAN ini sungguh memilukan hati. Umat Allah dan tanah yang mereka diami digambarkan sebagai orang yang buta, tuli, lumpuh, bisu. Padang belantara yang tidak dialiri sungai, tanah pasir yang hangat, dan tanah gersang, menggambarkan penderitaan yang hebat, tiadanya kehidupan yang damai dan makmur. Hal ini sama seperti yang telah dinubuatkan oleh Yesaya pada Pasal 1 ayat 5-7.
Masih banyak sebenarnya gambaran yang memilukan hati tentang keadaan umat TUHAN. Namun pertanyaannya adalah apakah TUHAN Allah akan terus membiarkan ini terjadi? Apakah dalam ketakutan dan penderitaan yang memilukan ini Allah sungguh telah melupakan dan memutuskan janji-Nya kepada umat yang dipilih-Nya? Inilah juga yang unik dari Kitab Yesaya ini. Bahwa di satu sisi dinubuatkan akan hukuman atau murka Allah yang akan menimpa mereka, tapi di sisi lain juga dinubuatkan janji keselamatan, janji penghiburan, janji pemulihan. Yesaya menyampaikan pesan Allah bahwa Dia akan datang memulihkan keadaan mereka. Sehingga yang buta akan melihat, yang tuli akan mendengar, yang lumpuh akan melompat seperti rusa, mulut yang bisu akan bersorak-sorak, mata air akan memancar di padang gurun, sungai akan mengalir di padang belantara, tanah pasir yang hangat akan menjadi kolam, dan tanah gersang akan menjadi sumber-sumber mata air.
Pemulihan yang Allah kerjakan seperti yang dijanjikan disini adalah sebagai bukti bahwa Allah tetap mengasihi mereka, Allah tidak meninggalkan dan melupakan umat-Nya, Allah bertindak untuk mengatasi rasa takut yang sedang mereka alami. Namun penting untuk direnungkan kembali, bahwa janji pemulihan ini hadir bersama-sama dengan pertobatan dari umat-Nya. Yesaya dipilih dan diutus ke tengah-tengah bangsa yang memberontak kepada Allah, adalah juga untuk menyuarakan pertobatan, supaya umat Allah meninggalkan dosa-dosanya, sebab keselamatan dan janji pemulihan itu hanya akan sampai kepada mereka, sisa-sisa umat Allah (Shear-yasyub) yang mau bertobat atau kembali kepada Allah.

Renungan
1.  Janji Keselamatan TUHAN Allah terwujud secara sempurna dalam diri Yesus Kristus, Allah yang menjadi manusia, Allah yang turut menderita dalam penderitaan manusia, Allah yang mati dan bangkit kembali. Dalam diri Yesus Kristus kita melihat bahwa maut, penderitaan, dan segala yang boleh membuat kita takut, sesungguhnya telah ditaklukkan lewat salib, kematian, dan kebangkitan-Nya. Allah yang kita sembah adalah Allah yang menang, Allah yang hidup, Allah yang setia akan Janji-janji-Nya. Dan yang kemudian oleh Roh-Nya kita sebagai umat percaya dipanggil untuk mengalahkan penderitaan dan rasa takut, sebab Roh yang diberikan kepada kita adalah Roh yang memberikan keberanian untuk menghadapi persoalan. Roh Allah yang diberikan kepada orang-orang percaya bukanlah roh pengecut, atau yang memberikan rasa takut (2 Tim 1:7) atau menuntun kita lari dari persoalan. Tetapi Roh yang membuat kita kuat hati, tangguh, untuk menghadapi dan memenangkan setiap persoalan-persoalan hidup.
2.  TUHAN Allah adalah sumber pertolongan yang sejati. Saat rasa takut menyerang, apakah itu karena bahaya yang mengancam hidup, problematika kehidupan, sakit penyakit, atau apa saja, mari melalui nas ini kita semua diajak untuk mengarahkan pandangan kita kepada Allah yang Mahakudus. Dialah si pemilik kehidupan, dan Dia jugalah sebenarnya sumber pertolongan yang sejati. Mari kita membiarkan Allah bertindak, menunggu dengan sabar jawaban dan hikmatNya, sehingga saat kita kemudian bertindak, maka tindakan kita berdasarkan iman dan kehendak-Nya. Jangan pernah meremehkan TUHAN dalam persoalan-persoalan hidup, jangan pula menduakan TUHAN hanya untuk membebaskan kita dari rasa takut tersebut. Sebab TUHAN bagi kita adalah tempat perlindungan dan kekuatan; sebagai penolong dalam kesesakan sangat terbukti (Mazmur 46:2).
3.  Janji pemulihan yang telah berlaku dulu, juga berlaku kepada kita kini, di sini dan nanti pada saat pemulihan yang sempurna saat kedatangan Yesus Kristus yang kedua. Hanya saja perlu direnungkan, bahwa janji itu berlaku kepada mereka yang juga siap mengarahkan hidupnya kepada TUHAN Allah, yang senantiasa mendasarkan tindakanNya dengan iman kepada Yesus Kristus (Roma 14:23). Amin
Suara GKPI, edisi Agustus 2012

"Diamlah dan ketahuilah, bahwa Akulah Allah!
Aku ditinggikan di antara bangsa-bangsa, ditinggikan di bumi!"
TUHAN semesta alam menyertai kita, kota benteng kita ialah Allah Yakub.”
                                                                  (Mazmur 46 : 11 – 12)

Sunday, 19 August 2012

HIKMAT & PENGERTIAN MEMBAWA KEPADA KEHIDUPAN



warta No:34-19 Agustus 2012                                                                                                             Untuk kalangan sendiri      
             
Nas ini mempersonifikasikan Hikmat. Hikmat dilukiskan seperti sebuah pribadi atau individu. Personifikasi ini tentu memudahkan orang untuk menghayati seperti apakah hikmat tersebut dan mengapa hikmat itu begitu penting. Dalam Amsal ini diperlihatkan bahwa Hikmat membuat sebuah perjamuan demikian juga kebodohan membuat perjamuan (ay 14-17). Hikmat dan kebodohan duduk dipinggir jalan dan mereka mengundang orang yang belum berpengalaman (ay 4; 14-16). Disini diuji setiap orang undangan siapakah yang akan dihadiri?

Ay 1 menyebut dengan mendirikan rumah dengan menegakkan ketujuh tiangnya. Apa makna dari ungkapan ini? Ada yang mengatakan bahwa ini menunjukkan pada nasihat dari Amsal dalam pasal 2 hingga 7. Namun hal ini boleh juga kita kaitkan dengan Yakobus atas 3:17 yang memuat tentang hikmat “Tetapi hikmat yang dari atas adalah pertama-tama murni, selanjutnya pendamai, peramah, penurut, penuh belas kasihan dan buah-buah yang baik, tidak memihak dan tidak munafik.”

Hikmat mencakup bijaksana, pertimbangan yang tajam, wawasan, meninjau ke masa depan, penilaian yang baik, keterampilan, pengalaman, kematangan, kemurnian, damai, dan sebagainya. Dalam kitab ini diperlihatkan bahwa hikmat mengundang semua orang untuk berada di dalam hikmat tersebut.

Undangan ini adalah undangan terbuka bagi setiap orang. Hikmat tidak memilih-milih. Ia selalu menawarkan diri untuk dicicipi oleh setiap orang. Dengan rumah yang dibangun dengan tujuh tiang mengartikan bahwa bangunan tersebut kokoh dan dapat melindungi setiap orang yang datang ke pesta tersebut. Oleh sebab itu mari kita menguraikan tentang ketujuh tiang tersebut berdasarkan kitab Yakobus 3:17
1.  Murni artinya tidak ada persaingan, tidak berusaha menekan orang lain atau meninggikan diri sendiri. Hikmat dunia adalah menghalalkan segala cara untuk memperoleh sesuatu.
2.  Penuh damai (berdamai dengan Tuhan dan sesama dan diri sendiri). Hikmat menghasilkan kedamaian. Salomo pada masa pemerintahannya ia berhikmat dan dengan demikian mendatangkan damai di Israel.
3.  Peramah: adalah orang yang bersedia mendengar orang lain, bersahabat dengan semua orang, dengan hikmat kita memiliki kemampuan untuk melihat dari sudut pandang orang lain.
4.  Penurut: dengan hikmat maka orang tahu kapan waktu terbaik untuk tegas, dan kapan waktunya membiarkan sesuatu terjadi. Hikmat tidak menimbulkan pertengkaran dan perang mulut (bnd 2 Tim 2:24-26, Amsal 25:15).
5.  Penuh belas kasihan dan buah-buah yang baik. Belaskasihan menunjukkan pertolongan bagi orang yang menghadapi kesulitan. Ia memiliki jiwa penolong dan memberlakukan orang lain dengan baik.
6.  Tidak memihak. Mengatakan bahwa harus bertindak adil dan memiliki ketegasan untuk mengatakan ya atau tidak.
7.  Tidak munafik (tidak berpura-pura atau bermuka dua dengan alasan apapun).

Dengan bagaimanakah kita boleh hidup di dalam hikmat tersebut? Di ayat 6 dikatakan buanglah kebodohan, maka kamu akan hidup. Maksudnya adalah bahwa kita diubahkan oleh hikmat tersebut untuk memperoleh hidup yang baik. Pembahasan khotbah ini memang hanya sampai ayat 6 namun adalah baiknya jika kita melanjutkan pembacaan ke ayat-ayat berikutnya, yang mana diperlihatkan tentang darimana seorang beroleh hikmat? Permulaan hikmat adalah takut akan Tuhan, dan mengenal Yang Mahakudus adalah pengertian (ay 10).

Takut akan Tuhan mengandung arti bahwa setiap orang menyiapkan hati dan pikiran untuk mendengarkan Tuhan. Mengenal yang Mahakudus memberi makna bahwa setiap orang percaya haruslah menyadari akan penyertaan Tuhan di dalam hidupnya. Di dalam hal tersebutlah setiap orang sungguh mengenal Tuhan. Pengenalan akan kasih Tuhan membutuhkan proses. Untuk itulah setiap orang diundang oleh hikmat untuk menikmati jamuannya.

Hal yang sama dilakukan oleh kebodohan mengundang semua orang yang lalu lalang. Orang yang diundangnya juga sama yaitu yang tidak berpengalaman dan tidak berakal budi. (ay 16). Namun apa yang diperoleh setelah menghadiri undangan tersebut?

Hikmat menawarkan umur di perpanjang dan tahun hidup di tambah sedangkan kebodohan memberikan orang-orang yang diundangnya ada didalam dunia orang mati. Undangan yang sama, namun akibatnya berbeda. Satu kepada kehidupan dan yang satu lagi pada kematian.

Sebenarnya nas ini membuka mata hati kita tentang tawaran-tawaran yang ada. Semua tawaran itu pada awalnya mudah dan menyenangkan, namun akhirnya banyak yang menyengsarakan. Sehingga patutlah setiap orang untuk merenungkan ungkapan yang mengatakan yang pahit jangan terus dimuntahkan dan yang manis jangan terus ditelan. Ini mengartikan bahwa semua orang layak untuk mengkritisi dari apa yang dihadapinya. Sebagaimana juga yang disampaikan oleh Kitab Yakobus tentang hikmat yang dari atas dan dari dunia Yakobus 3:13-18. Tuhan mengkehendaki agar setiap orang sungguh mau menerima undangan hikmat tersebut agar hidupnya penuh dengan kedamaian

Suara GKPI, edisi Agustus 2012

“Permulaan hikmat adalah takut akan TUHAN, semua orang yang melakukannya berakal budi yang baik. Puji-pujian kepada-Nya tetap untuk selamanya..”
(Mazmur 111 : 10)

Monday, 13 August 2012

HIDUP KEKAL DIPEROLEH DENGAN JALAN PERCAYA KEPADA YESUS KRISTUS


Warta No:33-12 Agustus 2012                                                                                                                    Untuk kalangan sendiri
PENDAHULUAN
Apakah yang terlintas dalam pikiran kita ketika kita ditanya “Apakah yang kamu cari dalam hidupmu?” Mungkin sebagian besar orang akan menjawab “kebahagiaan”, namun seringkali kita tidak mengetahui dari mana asal atau sumber kebahagiaan itu, dan bagaimana cara untuk mendapatkannya. Allah telah menyatakan diriNya kepada manusia agar mengerti bahwa Allah begitu memperdulikan mereka - Kedatangan Yesus ke dunia adalah bukti terbesar akan kasih Allah kepada manusia, namun keberadaanNya sering tidak dihiraukan bahkan ada sebagian orang yang tidak menerimaNya. Allah adalah sumber hidup, sumber sukacita, dan kebahagiaan yang kekal (keselamatan) inilah yang ingin Yesus nyatakan dalam kedatanganNya melalui pelayanan hidup, pengajaran dan pengorbananNya di kayu salib. Bagaimana dengan kita, apakah kita termasuk telah menemukan fokus utama tujuan kita yaitu kebahagiaan yang kekal yaitu hidup bersama Allah dalam kekekalan?

Penjelasan Nas
Pada khotbah sebelumnya disebutkan banyak orang yang mencari Yesus. Ada bermacam-macam motivasi orang datang kepada Yesus. Ada yang hanya sekedar ikut-ikutan, ada yang hanya ingin melihat tanda-tanda mujizat yang Ia perbuat, bahkan yang lebih memprihatinkan adalah mereka datang hanya karena roti (makanan duniawi) hal inilah yang terjadi pada konteks nas ini. Yesus mengupas ‘harapan yang salah’ di antara mereka tentang Yesus. Mereka mencari ‘roti’ tetapi tidak nampak tanda ajaib, Artinya yang mereka utamakan adalah berkat duniawi, kemakmuran dalam arti politik. Kalau mereka sungguh-sungguh ingin mengikut Yesus, haruslah mereka lakukan ‘pekerjaan Allah’, artinya menyerahkan diri kepada Dia dengan penuh kepercayaan. Mereka membandingkan Musa dengan Yesus, lalu kata mereka tanda ajaib yang diperbuat oleh Yesus tidak sebesar yang diperbuat oleh Musa. Musa mengaruniakan roti (”manna”) dari surga itu suatu ajaib yang tiada taranya bagi mereka. Lalu Yesus meceritakan adanya roti yang sesungguhnya dari sorga, lalu mereka meminta roti itu.
Yesus menegaskan maksudnya di ayat 35 dengan perkataan “Akulah roti hidup”, Yesus menerangkan bahwa Dialah Manna yang sejati. Ia bukanlah memberi manna, tetapi Dia sendirilah Manna itu. Ia telah turun dari sorga. Karena itu bukan kehendakNya sendiri yang dilakukanNya, melainkan kehendak BapaNya yang di sorga. Dan kehendak Bapa itu ialah “Supaya setiap orang, yang melihat Anak dan percaya kepadaNya beroleh hidup yang kekal, dan supaya Aku membangkitkannya pada akhir zaman”. Mendengar itu makin tidak percayalah mereka lalu bersungut-sungut (ay-41, 42).
Orang banyak itu bersungut-sungut disebabkan oleh pengenalan mereka akan Yesus hanyalah dari cerita kemanusiaanNya. Mereka hanya mengenal Yesus sebagai anak Yusuf, dari Nazareth, dan sebagainya. Sehingga dengan pengenalan yang demikian mereka menuduh para pengikut Yesus keterlaluan dalam pengenalan akan Yesus sebagai firman yang menjadi manusia. Namun Yesus menghardik mereka dengan mengatakan: ‘Jangan kamu bersungut-sungut!” Hardikan dan tegoran ini tujuannya adalah untuk mengajak semua orang bagaimana seharusnya dan semestinya mengenal Yesus yang sebenarnya, agar tidak terlalu berpolemik dan beradu argumentasi iman dalam usaha mengenal Yesus yang adalah Roti Surga. Perkataan Yesus itu agar orang Yahudi tidak bersungut-sungut adalah tegoran dan jawaban kepada orang Yahudi atas reaksi dan penolakan orang Yahudi setelah Yesus berbicara kepada mereka bahwa diriNya adalah roti hidup dan roti yang telah turun dari sorga di Kapernaum dalam Bait Allah. Penolakan dari kelompok orang Yahudi pada Yesus  karena ketidakmengertian mereka hanya melihat Yesus hanya secara lahiriah sajat. Orang Yahudi berpendapat, bagaimana mungkin Yesus telah mengatakan bahwa Ia telah turun dari Sorga? Penolakan orang Yahudi kepada Yesus adalah kegagalan mereka serta kesalahan besar dari mereka karena mereka sangat sulit atau tidak mengerti bahwa anak tukang kayu menjadi utusan dari Allah bagi hidup manusia.
Yesus telah menjelaskan kepada mereka bahwa tidak ada orang yang dapat datang kepada Yesus, jikalau tidak dibawa oleh Bapa. Supaya dapat percaya kepada Yesus, harus terjadi perubahan total dalam hati seseorang yang dilakukan oleh Allah Bapa. Tetapi bagi orang percaya jelaslah kepadanya bahwa Yesus ialah ‘roti hidup’. Roti itu lebih dari baik dari manna, karena orang yang makan dari roti itu akan hidup untuk selama-lamanya.

Renungan
Pada masa sekarang ini, banyak orang yang “hidup untuk makan” bukan “makan untuk hidup”. Juga banyak orang yang memfokuskan diri mencari makanan duniawi dibandingkan makanan rohani. Ada juga tipe orang hanya mencari Yesus ketika pergumulan dan persoalan menimpa hidupnya. Setelah ia lepas dari pergumulannya tidak lagi datang kepada Yesus bahkan mengucap syukur pun tidak. Ia datang kepada Yesus hanya ketika ia membutuhkannya. Banyak juga kita lihat yang disebut Kristen’Tomat’ hari Minggu tobat, Senin sampai Sabtu kumat, atau Kristen kapal selam yang sebentar timbul, sebentar tenggelam, yang hanya muncul di gereja pada saat hari-hari besar gereja atau karena ada acara pesta Gereja.
Yesus sendiri mengatakan “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup” (Yoh. 14:6). Artinya hanya dari Yesuslah kita bisa mendapatkan roti yang benar dari surga yang memberikan kita hidup yang kekal. Manna memang menyelamatkan bangsa Israel dari kematian karena kelangkaan makanan. Kematian badani memang dapat dicegah dengan datangnya manna, tetapi kematian rohani masih tetap merajalela. Demikian juga halnya dengan yang terjadi pada saat ini. Tidak ada satu pun sumber kekuatan di muka bumi ini yang dapat memberikan kita hidup kekal. Hanya Yesuslah satu-satunya yang dapat memberikannya - Karena itu tidak ada pilihan lain, jika kita mengarahkan tujuan hidup kita kepada kebahagiaan yang sejati yaitu hidup kekal bersama Yesus, percayalah dengan sepenuh hati kepadaNya. Kita bersyukur dan berterimakasih, karena Tuhan telah memberikan roti untuk kelangsungan hidup kita dalam mempertahankan hidup yang diberikanNya kepada kita. Tanpa roti maka hidup kita ini tidak bisa berlanjut. Hidup yang sebenarnya adalah hidup dalam hubungan yang baru dengan Allah. Hubungan yang baru itu adalah hubungan kepercayaan, ketaatan, dan kasih dan hubungan seperti itu hanya dimungkinkan oleh Yesus Kristus. Lepas dari Yesus Kristus tidak seorangpun yang bisa memasuki hubungan baru itu. Dengan kata lain, tanpa Yesus, kita memang tidak hidup. Oleh karena itu, kalau Yesus adalah Roti hidup kita, maka Ia adalah esensi hidup kita, maka Ia adalah Roti Hidup, untuk itu barang siapa makan daripadaNya, ia tidak akan mati melainkan beroleh hidup selama lamanya, dan roti yang diberikan Tuhan adalah ‘dagingNya’ yang telah diberikanNya bagi dunia ini. Ketika kita merasa lapar maka kita akan makan agar kita memiliki tenaga untuk meneruskan hidup kita. Maka agar kita memiliki kekuatan menghadapi segala tantangan hidup, kuat menghadapi segala pergumulan dan persoalan-persoalan yang ada, percayalah kepada Yesus yang senantiasa akan memberikan kita kekuatan itu sehingga kita bisa sampai kepada kehidupan kekal bersama Tuhan. Amin

Suara GKPI, edisi Juli 2012

“ Ahu do roti na mangolu, na tuat sian banua ginjang i.
Manang ise na manganhon roti on, i do mangolu salelenglelengna.
Ia roti silehononki, bahen hangoluan ni portibi on, i ma dagingku.”
(Yohanes 6 : 51)

Tuesday, 7 August 2012

YESUS KRISTUS ROTI DAN AIR BAGI KEHIDUPAN

warta No.32 - 5 Agustus 2012             
                                                                                                                                Untuk kalangan sendiri
PENDAHULUAN
Dalam nats dikatakan salah satu ucapan Yesus tentang dirinya "Akulah roti kehidupan; barangsiapa datang kepadaKU,  ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa datang kepadaKU, ia tidak akan haus lagi (35).Dalam nats, diceritakan tentang pengalaman melayani orang-orang lapar, yang rasa laparnya telah membawa mereka kepada sikap duniawi yang salah besar. Dalam ayat-ayat sebelumnya  (1-15) dipaparkan, Yesus baru dengan kuasa-Nya yang terkenal itu memberi makan 5000 orang. Beberapa saat kemudian setelah peristiwa itu, beberapa orang yang telah dikenyangkan kembali mencari Yesus dan menemukan Yesus di kota Kapernaum. Nats kita adalah percakapan mereka dalam pertemuan dengan Yesus. Apa kesalahan besar mereka? mari kita dengan seksama melihat percakapan mereka dalam pertemuan dengan Yesus.

PENJELASAN
Bila kita melihat dengan seksama nats kita , kita dapat melihat dan mengetahui paling tidak ada tiga (3) kesalahan besar yang dilakukan oleh orang-orang itu, yakni :

1. Mereka lupa bahwa Allah adalah sumber segala yang baik dalam hidup ini. Dalam pertemuan dengan Yesus, mereka kembali meminta makanan gratis, dengan mengemukakan alasan bahwa Musa telah memberikan Israel roti (manna) dari sorga setiap hari ketika mereka berjalan di padang gurun (31). Namun Yesus mengoreksi kesalahan mereka dengan menyatakan bahwa sumber makanan tersebut tidak lain adalah Allah, bukan Musa. Mereka telah melupakan kebenaran mendasar bahwa segala sesuatu yang kita miliki dalam hidup ini adalah merupakan pemberian Allah. Allah adalah sumber segala sesuatu, sebagaimana dikatakan dalam Yohanes 1:1 - 3: "Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah. Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatu  pun yang telah jadi dari segala yang dijadikan." Dan Yakobus 1:17, "Setiap yang baik dan setiap anugrah yang sempurna, datangnya dari atas, diturunkan dari bapak segala terang; padaNya tidak ada perubahan atau bayangan karena pertukaran." Kiranya kita dapat menghindari kesalahan seperti itu, yaitu dikuasi rasa lapar yang membuat kita menjadi buta akan kebenaran hakiki bahwa segala sesuatu yang kita miliki, berkat-berkat berasal dari Allah. Kita harus ingat yang menjadi hak Allah atas setiap berkat dalam hidup ini.

2. Mereka menganggap bahwa mujizat akan memuaskan rasa lapar mereka. Kenyataan mujizat-mujizat hanya membuat kebanyakan orang lapar dan  haus akan mujizat selanjutnya. Seperti kita, sering merasa tidak puas akan sesuatu dan ingin yang lebih lagi. Inilah yang terjadi, Yesus baru memberi makan 5.000 orang , dan hari kemudian orang yang sama lapar dan haus akan mujuizat selanjutnya. Sebenarnya dimanapun Yesus membuat mujizat, ada dua hal yang menjadi alasannya, yaitu:
       a. Menolong orang yang menderita
       b. Memberi pengajaran tentang keimanan, untuk menyatakan pesan tentang diriNya dan kerajaanNya.
Tetapi ternyata tujuan tersebut tidak tercapai dalam mujizat yang dibuat kepada orang-orang ini, malah sebaliknya membuat mata, telinga mereka buta dan tuli. Mereka tidak menerapkan pengajaran melalui mujizat kedalam kehidupan mereka, namun justru menuntut tanda mujizatyang lebih lagisebagai syarat bagi mereka untuk percaya.Kenapa Yesus tidak mengabulkan permintaan mereka? Yesus mengetahui tidak baik mereka yang hanya berfokus pada pemberian sebagai persyaratan untuk percaya kepada si pemberi. Kalau mereka tidak mau percaya, berapapun tanda mujizat, tdak pernah akan membuat mereka percaya kepada Yesus. Yesus benar-benar mengetahui bahwa mujizat membuat orang takjub dan heran, namun jarang membuat orang bertobat dan setia kepada Yesus. Mujizat tidak akan membuat kita percaya dan rindu akan Allah, tetapi relasi yang intim dengan roti dan air kehidupan itu yang melakukannya (menjadi percaya dan setia)
Seorang percaya mengatakan: Mesias tidak menyelamatkan dunia ini melalui mujizat tapi menunjukkan pengorbanan di kayu salib untuk menebus dosa dunia.Yesus datang tidak hanya menggunakan tanganNya yang ajaib hanya menjadikan roti, tapi agar semua tangan menerima tubuhNya  yang terpaku dan tubuhNya yang disalibkan untuk keselamatan dunia. Orang-orang pada waktu itu membutuhkan mujizat tapi motivasi mereka salah, yang mereka butuhkan sebenarnya adalah mujizat yang dapat membuat mereka bertobat dan mengakui Yesus adalah Tuhan dan Juru Selamat. dengan demikian mereka akan mengalami mujizat keselamatan jiwa dan pengampunan dosa.

3. Mereka lupa bahwa hakekat utama manusia adalah rohani bukan jasmani. banyak orang saat ini hanya mencari kepuasan fisik, makmur tetapi kehidupan rohani kering. sebenarnya manusia tidak seperti itu, ? kenapa? Manusia adalah mahkota ciptaan Allah, yang segambar dengan Allah. Allah adalah Roh bukan seperti yang lain. Allah telah menghembuskan nafas kehidupan , nafas rohani kepada manusia. hanya mnusia yang memiliki roh di dunia ini dan roh itu kekal. jadi satu hal yang membedakan manusia dengan yang lain adalah bahwa makanan tidak dapat memuaskan kita. Kita bisa saja memperoleh segala makanan, namun kita akan tetap merasa lapar. Ingat jawaban Yesuskepada iblis ketika dicobai untuk mengubah batu menjadi roti : "Manusia tidak hidup dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah" (Mat. 4:4). Manusia diciptakan tidak hanya membutuhkan makanan fisik tetapi juga makanan rohani. Makanan rohani kita dapatkan dari Yesus Kristus yaitu roti kehidupan. sebagaimana manusia tidak hidup tanpa roti, demikian juga keberadaan manusia tidak dapat hidup tanpa Yesus, roti kehidupan. Saat pertemuan dengan orang banyak Yesus mengerahkan supaya mereka mengetahui ada kelaparan yang lebih penting dari makanan fisik, yang hanya dapat dipuaskan melalui hubungan yang erat dengan Dia, Yesus Kristus.
Ada kelaparan akan kebenaran dan Yesus adalah kebenaran, yang dapat menjawab setiap permasalahan hidup. Ada kelaparan akan kehidupan dan Yesus sendirilah yang dapat memberikan kehidupan bagi manusia, kehidupan yang berkelimpahan dan kehidupan kekal. Ada kelaparan akan kasih dan Yesus sendirilah yang dapat memberikan kita kaih yang kekal sampai selama-lamanya.

REFLEKSI
  • Segala sesuatu dan kesenagan di dunia ini adalah sementara dan tidak kekal. Hanya hubungan yang erat dengan Yesus Kristus yang dapat memuaskan kerinduan dan kelaparan manusia baik jasmani maupun  rohani, karena Yesus adalah roti & air kehidupan.
  • Tuhan Yesus yang memiliki kuasa untuk melakukan mujizat. Mujizat terbesar, demonstrasi kuasa yang paling menakjubkan  yang  telah diperlihatkan kepada kita adalah melalui darahNya yang telah ditumpahkan di kayu salib, untuk menebus dosa-dosa kita, menyelamatkan dan menebus kita. Kalau kita mau menerimaNya, percaya dan setia kepadaNya niscaya segala kelaparan dan kehausan dan keinginan yang tidak dapat diberikan dunia ini akan kita temukan pada Yesus, sang roti dan air kehidupan.
Pendeta Resort GKPI Bandung-Resort Bandung
Pdt. B. Hutagalung, S.Th.


Nantikanlah Tuhan! Kuatkanlah dan teguhkanlah hatimu!
Ya, nantikanlah TUHAN
(Mazmur 27:14)



Monday, 30 July 2012

TUHAN MENCUKUPKAN KEPERLUAN UMAT-NYA

Warta No. 31 - 29 Juli 2012                                                                                                                                              Untuk kalangan sendiri 

 
PENDAHULUAN
Minggu ini adalah minggu ke-8 setelah Trinitas yang mengingatkan kita akan meja perjamuan, yang tersirat juga dalam mujizat yang dilakukan oleh Yesus, dimana Ia memberi makan 5000 orang hanya dengan 2 ekor ikan dan 5 keping roti, dan masih tersisa 12 bakul. Hal ini mengingatkan kita bahwa kuasa Tuhan Yesus jauh melampaui segala akal budi manusia. Dalam teks hari ini, Tuhan juga menunjukkan kuasaNya yang besar melalui tanda mujizat yang dilakukan Elisa.

Penjelasan
1). Setelah Nabi Elia diangkat ke surga, segera nampak bahwa kuasa kenabian diberikan Tuhan kepada Elisa. Jubah Elia pun telah ditinggalkan padanya. Elisa telah resmi menggantikan Elia sebagai nabi. Teks khotbah kita ini adalah bagian dari tanda-tanda mujizat yang dilakukan oleh nabi Elisa, mulai dari pasal 3 - 7. Tuhan menunjukkan kuasaNya melalui perbuatan-perbuatan mujizat yang dilakukan oleh Elisa.
2). Seperti yang pernah terjadi pada masa Elia, demikian juga pada masa Elisa terjadi kekeringan selama 7 tahun lamanya. Dimana-mana terjadi kekurangan makanan. Oleh karena itu perempuan Sunem dengan keluarganya disuruh pergi oleh Elisa untuk menyelamatkan diri dari bahaya kelaparan tersebut (psl 8:1 dst). Sebelumnya Elisa pernah menolong keluarga ini, dengan menghidupkan kembali anak laki-lakinya yang sudah mati (4:8-37).
3). Dalam situasi kekeringan dan kelaparan tersebut, hadiah 20 buah roti dan satu kantong gandum baru dari seseorang dari Baal-Salisa itu kepada Elisa (ay. 42) sangatlah berharga. Elisa berhak dan bebas untuk menyimpannya bagi dirinya sendiri, sebagai cadangan makanan selama beberapa hari. Tetapi dia tidak memakai hak dan kebebasannya untuk kepentingannya sendiri. Elisa menyuruh pembantunya untuk membagikannya kepada 10 orang yang sedang berkumpul, barangkali murid-murid Elisa sendiri. dengan tindakannya, dia seolah bapak bagi orang-orang tersebut, yang bertanggung jawab memenuhi kebutuhan mereka.
4). Pembantunya merasa heran dengan perintah Elisa, bagaimana mungkin 20 roti-roti kecil dapat mencukupi 100 orang?. Elisa tidak memberi perintah tersebut atas kuasanya sendiri, tetapi atas dasar firman Tuhan, dalam nama Tuhan mengatakan: "orang akan makan bahkan ada sisanya" (ay.43). Pembantunya berfikir secara manusia, logika dan hitung-hitungan manusia, sedangkan Elisa dengan kuasa Tuhan. Kemampuan manusia memang terbatas, tetapi kuasa Tuhan tidak bisa diukur oleh loga dan hitungan manusia. Tidak ada yang mustahil bagi Tuhan.
5). Pembantu itu, meski belum dapat menerima secara akal budinya, membagikan 20 roti itu kepada 100 orang tersebut. Mereka makan dengan cukup tetapi benar seperti yang dikatakan nabi Elisa, masih ada yang sisa.Masih ada sisa bukan karena mereka menahan diri dengan tidak memakan semuanya, tetapi karena sewaktu dibagikan roti itu bertambah-tambah. Tuhan bekerja dengan kuasaNya atas roti-roti tersebut.

Kesimpulan
1). Dari teks khotbah kita dapat melihat, bahwa kuasa Tuhan tetap berlangsung di segala zaman. Juga di zaman kita sekarang ini. Tuhan tetap menampakkan kuasa-Nya. Hanya kita harus melihat dengan mata iman kita, bukan hanya dengan akal budi kita.
2). Kita bisa belajar dari nabi Elisa, juga untuk kehidupan kita sehari-hari, diantaranya:
        a). Elisa adalah orang yang beriman. Dia sangat meyakini, bahwa Firman Tuhan berkuasa. Dengan penuh yakin dia menyuruh pembantunya untuk membagikan sedikit roti untuk banyak orang. Dan memang menjadi kenyataan, bahwa roti itu masih sisa seperti firman Tuhan (ay. 43). Tanpa iman dan keyakinan kepada firman Tuhan, tidak mungkin Elisa memerintahkan pembantunya untuk membagikan roti itu. Pertama Iman baru ada mujizat.
        b). Elisa tidak egois. Dia tidak mengejar keuntungan bagi dirinya sendiri. Dia mempunyai hak untuk memakan roti yang dihadiahkan kepadanya. Tetapi dia tidak memakai haknya untuk dirinya. Dengan kebebasan dan kerelaannya, dia membagi-bagikannya untuk orang lain. Berkat yang dia terima, dijadikannya berkat juga bagi orang lain. Elisa memberi teladan, memberi pelajaran bagi kita, bahwa pelayannya adalah pelayanan yang menyeluruh (holistik), rohani dan jasmani.
         c). Bagi orang-orang yang percaya dan berpengharapan kepada Tuhan, dia akan selalu memperhatikan dan mencukupkan kebutuhan-kebutuhan hidup kita. Oleh karena itu janganlah khawatir, tetapi tetap bekerja dan berdoa, jalankan apa yang diperintahkan Tuhan, kepada kita maka Tuhan akan memberi yang kita perlukan dalam hidup ini. amin.

Mata sekalian orang menantikan Engkau, dan Engkau pun memberi mereka makanan pada waktunya (Mazmur 145:15)

Monday, 16 July 2012

TUHAN MENGHUKUM PENYEMBAH-PENYEMBAH BERHALA

Warta Jemaat No. 29 - 15 Juli 2012                                                                                                                                         Untuk kalangan sendiri                                                 

Amos, bukanlah seorang nabi "profesional" seperti nabi-nabi lainnya (1 Sam. 19:18-24), atau berkarya di istana raja (1 Taw. 21:19 ; 25:5). Sebaliknya ia adalah seorang peternak domba  (Am. 1:1) dan pemungut buah ara (Am. 7:14) di dekat kota kecil di Tekoa yang terletak di sebelah selatan Yerusalem di kerajaan selatan (Yehuda). Namun, Tuhan memilih Amos untuk menyampaikan Firman-Nya kepada umat dan para pemimpin kerajaan Utara (Israel).

Amos bernubuat pada masa kerajaan Yerobeam II (786 - 746 SM) tepatnya mendekati akhir tahun kejayaan kerajaan Yerobeam II (2 Raja 14:23 - 29) yang diperkirakan tahun 760 - 746 SM. Walaupun dalam waktu yang sangat singkat , Amos dalam pelayanannya memperkenalkan dirinya sebagai nabi yang mengesankan ; dia jujur, berani dan tidak menahan firman yang diterimanya dari TUHAN untuk disampaikan kepada umat dan pemimpin Israel. Amos mengkritisi 2 hal , yaitu ketidakadilan para pemimpin Israel yang menindas umat Israel dan kebejatan moral yang terjadi ditengah-tengah umat itu sendiri.

Penjelasan

Masa Kejayaan kerajaan Yerobeam II berakhir dengan tindakan-tindakan yang tidak berkenan kepada TUHAN - Yahwe. Pemimpin negara, pemimpin Agama, orang-orang kaya menindas dan merampas hak-hak orang-orang miskin, yang kaya semakin kaya dan yang miskin semakin miskin. Rezim raja Yorobeam melakukan kejahatan secara sistematik, bukan saja melibatkan birokrat tetapi juga sudah berkolusi dengan lembaga keagamaan seperti imam Amazia. Hasilnya, terjadi ketidakadilan dengan semena-mena, penyelewengan yang mengakibatkan kesenjangan sosial. Nabi Amos membuktikan itu, yaitu sesuai dengan perintah Allah yang diterimanya, dia mengukur bahwa kerajaan Yerobeam II di Utara didapati ketidak-adilan dan kebejatan moral.

Amos mendapat penglihatan ketiga dari Allah yaitu Tali Sipat. Tali Sipat adalah seutas tali panjang dengan batu atau besi pemberat di ujungnya. Tali ini biasa dipakai tukang bangunan untuk mengukur dan memastikan bangunan yang dikerjakannya lurus ke atas dan ke bawah. Nah, Tuhan memakai Tali SIpat ini untuk mengukur umat Israel, umat pilihan itu, termasuk semua pimpinannya, apakah masih didapati benar di hadapan TUHAN?. Ternyata, kehidupan umat Israel di bawah kepemimpinan Yerobeam II dinyatakan tidak benar dihadapan TUHAN dan tidak dapat dimaafkan lagi.

Selanjutnya, pada ayat 10-15, Amazia, imam di Betel, mengadukan Amos kepada raja Yerobeam dan menggugat Amos dan mngusirnya untuk keluar dari Israel Utara untuk kembali ke kota kelahirannya di Yehuda tempat kerajaan Israel Selatan. Amos mengaku bahwa ia bukan seorang nabi dan bukan pula masuk golongan nabi - Amazia menyebut Amos sebagai "pelihat" - dan Amos menyampaikan alasan yang kuat atas apa yang disampaikannya kepada raja Yerobeam dan penduduk Israel Utara. Amos berkata:"Aku seorang peternak dan pemungut buah ara hutan. Tetapi TUHAN mengambil aku dari pekerjaan menggiring kambing domba, dan TUHAN berfirman kepadaku : Pergilah, bernubuatlah terhadap umat-KU Israel" (ayat 15). Selanjutnya Amos menyampaikan nubuatnya bahwa Israel akan dihukum dengan pedang dan tanah Israel akan dibagi-bagi dengan tali pengukur (ayat 17).

Renungan 

Kehadiran Gereja ditengah-tengah masyarakat masih sangat dirindukan, demikian pula dengan fungsinya, diharapkan bahwa Gereja dapat menjawab persoalan kehidupan warga jemaat yang kian hari semakin kompleks dan pelik. Tidak dapat disangkal bahwa fungsi Gereja masih sebatas kerohaniandan belum terbuka untuk menjangkau kebutuhan warga jemaat seperti pemeliharaan kesehatan , peningkatan ekonomi dan kebutuhan perlindungan hukum. Malah sebaliknya, Gereja yang sudah berbadan hukum tidak berkekuatan menegakkan keadilan sesuai dengan hukum yang berlaku. Misalnya, ibu Rosa datang menyampaikan keluhannya kepada pejabat Gereja bahwa sbidang tanahnya diambil oleh pengusaha kaya. Ibu Rosa merasa diperlakukan tidak adil sehingga menuntut haknya ke pengadilan. Apa yang bisa dilakukan pejabat Gereja ? tentulah yang bisa dikatakan :"sabarlah inang! kita doakanlah, Tuhan itu pasti adil". Benar, dengan berdoa barangkali ibu Rosa merasa tenang, tetapi apa ada lembaga hukum yang dimiliki Gereja yang bisa mengerjakan doa itu? tentulah Gereja harus tunduk kepada pemerintah (ayat 13). tetapi Gereja hendaklah tetap tegar dan tidak perlu takut untuk menyampaikan suara kenabiannya, seperti Amos, karena untuk itulah Gereja dipanggil TUHAN. Kalau tidak, Allah akan menetapkan jalan lain, seperti hulu air yang deras  jika dihambat akan mencari jalannya sendiri. Demikian pula berlaku bagi Gereja, bila tidak menyuarakan firman Tuhan, apa yang terjadi?

Kesimpulan

Gereja terpanggil untuk menyampaikan kebenaran firman TUHAN yang mendatangkan kebaikan dan keselamatan bagi jemaat.
(suara GKPI edisi juli 2012)

Aku katakan "di dalam Kristus", karena di dalam Dialah kami mendapat bagian yang dijanjikan -- kami yang dari semula ditentukan utnuk menerima bagian itu sesuai dengan maksud Allah, yang didalam segala sesuatu bekerja menurut keputusan kehendak-Nya (Efesus 1:11)

Monday, 9 July 2012

TUHAN YANG MENGUTUS PEMBERITA FIRMAN-NYA

Warta No 28 - 08Juli 2012                                                                                                                                                     Untuk Kalangan Sendiri


Dalam nats kotbah minggu ini, menceritakan panggilan Yehezkiel (Allah meneguhkan)menjadi nabi ditengah-tengah umat yang hidup dalam pembuangan. Yehezkiel adalah anak Imam Busi (Yeh 1:3) dari bani Zadok yang boleh mendekat kepada Tuhan untuk menyelenggarak kebaktian (Yeh 40: 46b). Pada tahun 587 SM dibuang ke Babel oleh Nebudkadnesar bersama raja Yoyakim dan orang-orang penting di Yerusalem (semua orang kaya dan orang pintar di Yerusalem). Yehezkiel terpanggil menjadi Nabi setelah 4 tahun bersama Israel di pembuangan Babel. Ia nabi yang sering menerima penglihatan (vision) ilahi dan ditugasi untuk menyampaikan Firman Allah kepada umat-Nya, bahwa Allah Israel adalah Allah yang setia dari segala Allah dan Tuhan dari segala Tuhan, Allah yang tidak pernah ingkar janji pada janji-Nya didepan leluhur umat yaitu, Abraham, Ishak dan Jakob, dan percaya bahwa Allah tidak melupakan/meninggalkan mereka di pembuangan. Titik tumpu iman nabi Yehezkiel adalah bahwa Allah yang Kudus (cadosy) berkuasa atas semua bangsa-bangsa (baik Babel, Asyur, Israel, dsb)bukan Allah disuatu tempat tapi di semua wilayah.

Iman tersebut sangat bertolak belakang dengan pandangan umumbangsa-bangsa termasuk umat Allah sendiri. Mereka berpendapat (mengimani) setiap bangsa beserta wilayahnya memiliki illah (dewa, allah) sendiri-sendiri. Sebaliknya nabi, memuat kesaksian bahwa Allah Israel pencipta dan satu-satunya Allah (cf.Ul 6:4 Jahwe ehad). dengan iman yang demikian, Israel melanjutkan dosa-dosa nenek moyang mereka dengan menyembah berhala, ilah-illah di Babel, dan dengan mudah dipengaruhi lingkungan kafir. Kesalahan bangsa Israel yang sangat memberatkan sehingga terhukum oleh Allah, ialah mereka mengiakan perintah raja yang menyembah (beribadah) kepada patung raja. Dengan penyembahan kepada patung raja, sehingga Allah menyebut mereka (Israel) dengan "bangsa pemberontak". Nabi Yehezkiel terus bekerja untuk menguatkan dan meneguhkan pengharapan umat yang sedang mengalami nasib buruk, putus asa tanpa harapan masa depan yang lebih baik, meski keadaan mereka itu dipercayai sebagai hukuman Allah atau dosa masa lalu.